|
Written by Asep Iwan
|
|
Thursday, 13 August 2009 |
1. Toilet 30 kamar 2. Tower Air + Pompa Bor 3. Dapur Umum 4. R. Makan Putri 5. R. Makan Putri 6. Asrama Putri 7. Asrama Putra 8. Lapangan Basket
BAGI YANG BERMINAT MENYALURKAN INFAK, dapat dikirim melalui : - No. Rek. 0527006297 An. Shiddiq Amien pada Bank Syari'ah Mandiri Cabang Tasikmalaya - No. Rek. 0007029837100 An. Pesantren Persatuan Islam Benda pada Bank Jabar Banten Cab. Tasikmalaya - No. Rek. 3210095381 An. Shiddiq Amien pada Bank BCA KCP Sutisna Senjaya Tasikmalaya
|
|
|
Tanpa Kecintaan Ilmu, Peradaban Islam Sulit Bangkit |
|
Written by asepabdulhamid
|
|
Monday, 21 April 2008 |
|
Peradaban Islam akan sulit bangkit kembali, kalau kecintaan terhadap ilmu pengetahuan agama Islam tidak tumbuh
Hidayatullah.com—Pernyataan ini disampaikan oleh peneliti Institute Study for Islamic and Civilization (INSISTS), Adnin Armas, MA di Jakarta.
Adnin Armas menjadi pembicara seminar di Jakarta tentang bangkitnya peradaban Islam. Menurutnya, Peradaban akan bangkit apabila didukung kuatnya tradisi ilmu pengetahuan di antara masyarakat yang mengharapkan kehadiran sebuah peradaban, jelasnya.
Adnin mengaku sekarang ini mayoritas muslim merindukan kembali bangkitnya peradaban Islam seperti pada masa abad pertengahan. Kerinduan semakin menggebu ketika berhadapan dengan peradaban Barat yang mendominasi lini kehidupan.
Kandisat doktor lulusan ISTAC-IIU Malaysia ini tidak ingin menyalahkan peradaban Barat sebagai kambing hitam sulitnya peradaban Islam bangkit. Menurutnya, faktor internal umat lah yang harus segera dibenahi terlebih dahulu. Umat Islam harus instropeksi diri dan mau melakukan perubahan internal secara mendasar, ungkapnya.
Menurut Adnin, kelemahan terbesar umat adalah lemahnya tradisi ilmu pengetahuan yang berbasis agama. Saat ini, lanjutnya, institusi-institusi pendidikan Islam sepi dari peminat. Fakultas-fakultas kajian Islam di Universitas Islam Negeri (UIN) yang merupakan perubahan dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN), terangnya, kalah bersaing dengan kajian ilmu umum.
Di UIN, fakultas favorit adalah fakultas umum, bukan kajian Islam (dirasat islamiyyah). Makanya, Menteri Agama membuat kebijakan tidak melanjutkan perubahan IAIN di berbagai daerah menjadi UIN, tambahnya. Kalau tidak ada kebijakan tersebut, bisa-bisa fakultas agama tutup, seperti di universitas-universitas Islam non-UIN.
Begitu juga dengan keberadaan madrasah-madrasah, baik ibtidaiyah, tsanawiyah, atau aliyah. Menurut Adnin, pada awalnya madrasah-madrasah ini dimaksudkan untuk mengkombinasikan ilmu agama dan ilmu umum. Tapi dalam realitasnya, ilmu agama tidak menguasai, sedangkan ilmu umum ketinggalan, paparnya.
Para ilmuan Islam terdahulu, lanjut Adnin, seperti Imam Syafii, Al-Ghazali, Ar Razi, Ibnu Sina yang menguasai beragam disiplin ilmu pengetahun dimulai dari belajar ilmu-ilmu agama dengan serius. Ilmu agama ini dijadikan sebagai landasan mempelajari ilmu-ilmu umum. Para ilmuan ini lah kemudian yang menjadi simbol peradaban Islam, terangnya.
Menurut Adnin, kalau umat Islam berharap peradaban Islam bangkit kembali, mutlak harus mengikuti jejak para ilmuan Islam tersebut. Ada dua syarat yang harus dipenuhi, katanya. Agar lahir Imam Syafii baru dan Ibnu Sina baru.
Pertama, menjadikan rumah sebagai madrosatul ula (sekolah pertama). Semangat menuntut ilmu para ilmuwn tersebut tumbuh dari para orang tua. Setelah menuntut ilmu di rumah, para orang tua tersebut mengantarkan anaknya ke beberapa guru, jelasnya.
Kedua, menuntut ilmu tidak mengenal tempat. Para Ilmuan Islam, lanjutnya, menghabiskan waktu berpindah-pendah tempat hanya untuk mencari guru. Semangat wisata ilmiah sangat tinggi, katanya. Saat ini, wisata kuliner yang malah memiliki banyak penggemar. [pel/www.hidayatullah.com] |
|
|