Pesantren Persatuan Islam Benda, Jl. Cisalak No. 15 Benda Nagarasari Cipedes Tasikmalaya 46132, Jenjang Pendidikan Madrasah Tsanawiyyah terakreditasi A Madrasah Aliyah Terakreditasi A

RAMADHAN BULAN SABAR


Diposting oleh : Admin
Rabu, 11 Agustus 2010 - 05:21:22 WIB
Dibaca: 1361 kali


RAMADHAN BULAN SABAR
Oleh :  Shiddiq Amien

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam Ibnu Khuzaimah Nabi saw. menyebutkan  Bulan Ramadhan adalah bulan sabar,( atau bulan melatih kesabaran.) Dan sabar itu tidak ada balasannya kecuali surga.
Selama bulan Ramadhan kita bukan hanya dilatih untuk bersabar menahan diri dari lapar, haus dan dahaga,  serta nafsu birahi, sejak subuh hingga maghrib , tapi juga dilatih untuk menahan diri dari ucapan dan perbuatan dosa.
Tidak jarang kita menyaksikan orang yang shaum hanya dari makan , minum dan jimak atau senggama, tapi tidak shaum dari perbuatan dosa. Mereka tetap berdusta, mengunjing orang, berkata kasar dan kotor ,menghina, memfitnah, menipu, mencuri, korupsi, men zalimi sesame,  dsb. Bahkan sebuah tradisi buruk yang susah dibrantas adalah membakar petasan, kembang api, dsb, Sepertinya kuat anggapan bahwa itu bagian tak terpisahkan dari ibadah shaum, padahal bukan sama sekali.  Itu jelas-jelas merupakan perbuatan tabdir dan dosa.  Nabi saw. telah mengingatkan dalam sabdanya : “ Shaum itu bukanlah hanya menahan diri dari makan dan minum  melainkan juga dari perbuatan yang tidak berguna dan perkataan kotor dan  tidak senonoh. “ HR. Ibnu Khuzaimah.
Di hadits lain Nabi saw. bersabda : “ Barangsiapa yang tidak meninggalkan omongan yang kotor ( kasar, porno, menyakitkan ) atau perbuatan dosa, maka bagi Allah  tidak ada manfaatnya ia meninggalkan lapar dan dahaga. “  HR. Al-Bukhari.

Sabar juga mengandung pengertian ta’at. Ta’at kepada  aturan dan ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Diantara definisi ta’at menyebutkan :  Taraktu ma ahwa lima ahsya                 ( meninggalkan keinginan sendiri untuk melaksanakan perintah yang ditakuti, yaitu Allah swt. ).  Ta’at tidak identik dengan  ‘nurut’, jika seseorang lapar lantas diberi makanan kemudian ia memakannya, ini bukan ta’at melainkan nurut. Ta’at lebih sering bertentangan dengan keinginan hati. Misalnya ketika waktu subuh tiba, terdengar muadzin adzan, maunya kita ini terus tidur, tapi kemudian kita bangun, wudlu dan  pergi ke mesjid ikut berjamaah, maka inilah ta’at.  Seorang pasien dinilai sabar jika ia menaati nasihat dokter. Apa yang disuruh dokter ia kerjakan dan apa yang dilarang dokter ia tinggalkan.  Demikian juga seseorang yang shaum dinilai sabar karena ia telah bisa meninggalkan keinginan dirinya, seperti halnya makan dan minum, serta menahan desakan libido seksual, untuk mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya yakni shaum.

Di siang hari seseorang yang shaum tidak makan dan minum bukan karena tidak ada makanan dan minuman, bukan tidak ada tempat untuk bersembunuyi agar tidak diketahui orang, tapi lebih didasari keyakinan bahwa  Allah Maha Mengetahui
Sikap seperti ini pada sebagian orang  yang shaum baru sebatas pada makan dan minum serta jimak, belum pada hal-hal lain khusunya yang termasuk pada katagori maksiat dan dosa. Oleh sebab itu berhasil tidaknya kita melatih kesabaran selama bulan Ramadhan ini bisa dilihat pada  prilaku hidup kita pasca bulan Ramadhan. Bukankah jika kita berdusta, mencuri, menipu, iri dan dengki atau zalim kepada sesama,  bukan hanya diri kita sendiri yang tahu melainkan Allah juga Maha Mengetahui.  Bukankah jika dua orang berzina, atau menggunjing orang,  bukan hanya kita berdua yang tahu melainkan di samping kiri dan kanan kita ada malaikat Raqib dan ‘Atid yang mencatat segal;a amal prilaku kita.?

Sama seperti halnya ibadah haji, ibadah haji seseorang dinilai mabrur, antara lain jika ia melaksanakan hajinya dengan  tepat niat, yakni ikhlas semata-mata karena Allah, tepat tempat, ia melaksanakan ihram, wukuf, dsb. di tempat yang sudah ditetapkan Allah dan rasul-Nya, dan tepat kaifiyatnya, yakni ia melaksanakannya sesuai dengan manasik haji yang diajarkan oleh Nabi saw.  Selain itu juga bisa ditandai dengan memperhatikan  amal prilakunya sepulang dari menunaikan ibadah haji . Jika sebelum haji ia bakhil, dan waktu pulang masih tetap kikir, sebelum haji suka senang judi, pulang malah jadi agen judi, sulit kiranya untuk bisa dinilai hajinya mabrur dan maqbul.

Shaum juga melatih diri untuk menjadi manusia yang zuhud, yakni hidup tidak diperbudak oleh dunia. Kecintaan manusia kepada harta benda adalah merupakan karakter dan pembawaan manusia. Islam tidak melarang kita mencintainya. Islam hanya mengingatkan agar kecintaan kapada dunia tersebut tidak mengakibatkan lupa diri untuk
berdzikir  dan beribadah kepada Allah. Atau lupa akan batas-batas yang telah digariskan Allah, seperti batas halal dan haram. Serta tidak berubah menjadi sebuah  ‘penyakit hubud-dunya ‘ yang antara lain ditandai dengan tidak adanya rasa betah dan tumaninah dalam beribadah karena fikiran, perhatian dan hatinya sudah didominasi oleh urusan dunia.

Pada menjelang akhir bulan ramdhan kita sering menyaksikan banyak orang yang berlomba belanja, segala dibeli, dikumpul-kumpul , bahkan cenderung tabdir dan pamer kekayaan. Sepertinya ada perasaan tidak sulses lebaran jika tidak ganti pakaian, sandal atau sepatu dan kendaraan .Sepertinya kuat  anggapan di tengah masyarakat kita bahwa shaum ramadhan itu harus ditutup dengan pesta habis-habisan, bahkan dikalangan orang yang kurang mampu juga banyak yang terpaksa pinjam dan ngutang, lantas dimanakah hasil dari latihan sabar dan zuhud selama ramadhan itu hasilnya ?

Wallahua’lam.

 

 


0 Komentar :
Isi Komentar :
Nama
Website
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)