RAMADAN, SAAT MEMBANGUN SOLIDARITAS DAN KESEJAHTERAAN UMAT
Diposting oleh : Admin
Rabu, 11 Agustus 2010 - 05:16:52 WIB
Dibaca: 636 kali
RAMADAN, SAAT MEMBANGUN SOLIDARITAS DAN KESEJAHTERAAN UMAT
Oleh : Shiddiq Amien
Setiap Insan beriman pasti berharap ampunan Allah, sebab dengan ampunan-Nya bisa dipastikan orang itu akan mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan yang hakiki dan abadi kelak di kemudian hari. Ramadan sering disebut sebagai “ Bulan Maghfirah “, bulan penuh ampunan Allah. Hampir semua amal ibadah yang kita perbuat dengan niat yang ikhlas, dan dengan kaifiyat yang benar, sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw jaminannya adalah ampunan-Nya.
Dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim, Nabi saw menjanjikan bahwa shalat yang lima waktu, bisa menghapus dosa-dosa yang ada diantara shalat yang lima itu, Shalat jum’at bisa menghapus dosa yang ada diantara dua jum’at dan ibadah di bulan Ramadan bisa menghapus dosa yang ada di antara dua Ramadan. Shalat Tarawih, menyediakan makanan buat buka orang yang shaum, jaminanya juga ampunan Allah. Semua itu akan menjadi daya tarik tersendiri bagi setiap insan yang beriman untuk menunaikannya.
Rasa lapar yang dirasakan selama menjalani shaum Ramadan mesti menumbuhkan kesadaran pada jiwa orang-orang mampu untuk semakin peduli terhadap kaum dluafa. Apalagi dalam Qur’an surat Al-Insan : 8 oleh Allah digambarkan bahwa “ Al-Abrar “ orang-orang yang shalih yang mendapat jaminan surga, adalah mereka yang suka bersedekah dengan makanan yang masih baik kepada orang-orang miskin dan anak-anak yatim serta tawanan. Di QS. Al-Lail: 17-18 mereka yang rajin bersedekah adalah pertanda orang yang bertakwa yang akan dijauhkan dari siksa neraka.
Dalam hadits riwayat Imam Ahmad, Nabi saw menyatakan bahwa seutama-utamanya sedekah, adalah sedekah di bulan Ramadan. Nabi menganjurkan kepada setiap muslim untuk bersedekah setiap hari. Para sahabat merasa kaget dengan perintah tersebut, karena dalam fikiran para sahabat waktu itu, yang disebut sedekah itu dengan harta saja. Mereka bertanya tentang ada tidaknya orang yang mampu bersedekah setiap hari. Nabi kemudian menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan sedekah itu bisa berupa : Mengucap salam kepada sesama muslim, menengok orang yang sakit, memulasara jenazah, membantu orang-orang lemah atau invalid, menyingkirkan benda-benda yang membahayakan dari jalan, seperti : paku, duri, kaca, tali, cangkang pisang, dsb, melaksanakan amar makruf dan nahi munkar, sampai memperlihatkan wajah yang ramah, itu semua adalah sedekah. Semua itu akan menjadi semakin bernilai jika dilakukan dengan ikhlas dan dilakukan di bulan Ramadan.
Dengan motivasi keimanan yang kuat dan obsesi untuk mendapatkan ampunan Allah, semestinyalah orang-orang yang diberi harta lebih, diberi kemampuan unggul dibanding dengan yang lainnya mampu memanfaatkan momentun Ramadan ini untuk menunaikan kewajibannya berupa zakat, wakaf, atau infak, berbagi kebahagiaan dengan kaum du’afa baik itu : fuqara, masakin, aitam, dan korban bencana, dengan menyisihkan sebahagian harta kekayaannya menjadi sedekah. Sehingga kaum du’afa bisa merasakan betul hikmah bulan Ramadan, merasakan bagaimana nikmatnya menjadi seorang muslim dan mukmin yang memiliki karakteristik “ Kal-bunyan “ seperti sebuah bangunan yang satu unsur bangunan dengan unsur lainnya saling menopang. Kata “Ukhuwah Islamiyyah” tidak sebatas kata yang tanpa makna dan tanpa realita. Kehidupan mukmin dengan mukmin yang diumpamakan oleh Nabi saw “ Kal-Jasadil Wahid “ ibarat satu tubuh, yang jika salah satu anggota tubuhnya sakit, sekujur tubuh ikut merasakannya, betul-betul bisa dibangun dan dirasakan, khususnya selama bulan Ramadan.
Lembaga-lembaga yang selama ini berusaha memobilisasi Zakat, infaq, shadaqah, dan wakaf (ZISWA) baik itu LAZ maupun BAZ semestinya menjadikan Ramadan sebagai momentum untuk meningkatkan upaya memobilisasi ZISWA, meningkatkan kepercayaan umat untuk menyalurkan Ziswa-nya melalui lembaganya, dengan meningkatkan profesionalisme dan akuntabilitasnya, baik akuntabilitas dari sudut pandang akuntan, maupun sudut pandang syar’i, kemudian mendistribusikan ZISWA itu sesuai dengan ketentuan-ketentuan syar’i, sehingga problemtika kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan sebagain masyarakat muslim yang sering dieksploitasi oleh kaum kuffar untuk memurtadkan kaum muslimin bisa kita imbangi dan atasi.
Kepada manusia bakhil Allah sudah mengingatkan dalam QS. Ali Imran : 180, bahwa harta yang dibakhilkan akan dikalungkan pada hari kiamat, yang oleh Nabi saw disebutkan berupa ular yang besar yang akan mematuki kedua pipinya kelak. Wallahu’alam.