AKKBB Sang Provokator

Selasa, 26 Januari 2016 20:26:57

Facebook Google+ Twitter


Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) merupakan perkumpulan liar yang tidak terdaftar di Departemen Dalam Negeri atau pun Departemen Kehakiman.  Aliansi cair ini terdiri dari banyak organisasi, lembaga  swadaya masyarakat, dan  kelompok-kelompok “ keagamaan “, termasuk aliran sesat Ahmadiyah.  Ada 65 organisasi dan lembaga yang tergabung dalam AKKBB, seperti : ICRP, The Wahid Institute, Kontras, JIL, Generasi Muda Antar Iman, YLBHI, Konferensi Waligreja Indonesia (KWI), Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI), Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI), Komunitas Gereja Damai, Komunitas Penghayat, Lakpesdam NU, Interfidei, dsb.  Sebagian  dari mereka itu merupakan organisasi “ Papan Nama “ dan  “ Tadah Hujan “ yang bersifat insidental dan aktifitasnya tergantung kepada      “ Curah Hujan Dana “  dari donasi asing.

Nama AKKBB mulai mencuat dan jadi buah bibir masyarakat setelah peristiwa Monas tangga 1 Juni 2008 . Sebelumnya organisasi ini sering diidentikan dengan gerakan pembelaan terhadap Ahmadiyah, elemen-elemennya termasuk yang paling keras menentang RUU Anti Ponografi dan Pornoaksi, paling gigih menentang  apa yang mereka sebut dengan perda-perda Syari’at, menentang formalisasi Islam, dan paling giat mempromosikan lesbianisme dan homoseksual.  Mereka selalu bergerak dengan mengusung wacana kebebasan beragama,  demokrasi, HAM, Pluralisme dan kesetaraan gender ( gender equality). Sesuatu yang sangat absurd, karena donatur utama mereka adalah Amerika yang selama ini justru menginjak-injak prinsip-prinsip tersebut, seperti yang kita saksikan di Palestina, Afganistan, Irak, dan belahan bumi lainnya. 

Jika kita melongok perjalanan sejarah dan idiologi aliran sesat Ahmadiyah dengan AKKBB, kita bisa menemukan benang merah yang menghubungkannya, yakni permusuhan terhadap syari’at Islam, pertemanan dengan Zionis, mengedepankan baik sangka terhadap non muslim dan berburuk sangka terhadap kaum muslimin. Bukan kebetulan jika banyak tokoh AKKBB merupakan orang-orang yang merelakan dirinya menjadi pelayan kepentingan Zionis, semisal  Goenawan Muhammad yang pada tahun 2006 menerima penghargaan Dan David Prize dan uang kontan senilai US$ 250.000,- di Tel Aviv ( indolink.com) , atau Ulil Absar Abdala dengan JIL-nya yang bekerjasama dengan The Asia Foundation, atau Gus Dur yang Mei 2008 lalu mendapat anugrah  Medal of Velor ( Medali Keberanian ) dari Shimon Wiesenthel Centre (SWC)  yang dilakukan dalam acara makan malam istimewa yang dihadiri banyak tokoh zionis dan rabi-rabi yahudi terkemuka dari AS dan Israel, di Beverly Hilshire Hotel, Selasa 6 Mei 2008 pukul 19.00 waktu Los Angels.( swaramuslim.com).

Beberapa minggu sebelum peristiwa Monas terjadi,  AKKBB sudah memuat iklan di berberapa media dengan judul “ Mari Pertahankan Indonesia Kita “  yang isinya :      

“ Indonesia menjamin tiap warga bebas beragama. Inilah hak asasi manusia yang dijamin oleh konstitusi. Ini juga inti dari asas Bhineka Tunggal Ika, yang menjadi sendi ke-indonesia-an kita.  Tapi belakangan ini ada sekelompok orang yang hendak menghapuskan hak asasi itu dan mengancam ke-bhineka-an. Mereka juga menyebarkan kebencian dan ketakutan di masyarakat. Bahkan mereka menggunakan kekerasan, seperti yang terjadi terhadap penganut Ahmadiyah yang sejak 1925 hidup di Indonesia dan berdampingan dengan damai dengan umat lain. Pada akhirnya mereka akan memaksakan rencana mereka untuk mengubah dasar negara Indonesia, Pancasila, mengabaikan konstitusi, dan menghancurkan sendi kebersamaan kita. Kami menyerukan, agar pemerintah, para wakil rakyat, dan para pemegang otoritas hukum, untuk tidak takut kepada tekanan yang membahayakan ke-indonesia-an itu. Marilah kita jaga republik kita. Marilah kita pertahankan hak-hak asasi kita. Marilah kita kembalikan persatuan kita.” Jakarta, 10 Mei 2008.  Kemudian di bawahnya dicantumkan tidak kurang dari 289 nama-nama tokoh pendukung secara Alpabetis yang tergabung dalam AKKBB itu. Sebagiannya adalah nama-nama besar, seperti : A. Rahman Tolleng, A. Syafi’i Ma’arif, Adnan Buyung Nasution, Amien Rais, Anan Krishna, Asmara Nababan, Azyumardi Azra, Goenawan Mohamad, Gusti Ratu Hemas, HS Dillon,  M.Dawam Rahardjo, Ratna Sarumpaet, Todung Mulya Lubis, Ulil Absar Abdalla, Marsilam Simajuntak,  dsb. bahkan tercantum 12 orang bergelar Kyai Haji, seperti KH. Abdurahman Wahid, dsb. 

Dari iklan yang mereka pasang nampak jelas mereka ingin mengalihkan persoalan dari penodaan dan pengkhiantan yang dilakukan Ahmadiyah terhadap ajaran Islam, dengan cara membenturkan persoalan tersebut dengan Pancasila, HAM, dan Konstitusi serta ke-bhineka-an. 

Terkadang kita tak habis fikir dengan sikap para tokoh muslim apalagi bergelar Kyai Haji, mengapa mereka begitu rela dan bersemangat membela  Ahmadiyah yang sudah dengan jelas sesat dan menyesatkan, bahkan telah lebih awal memberikan penilain dan sebutan buruk terhadap siapa saja yang tidak beriman kepada Mirza Ghulam Ahmad (MGA) dan agamanya itu. Misalnya dalam beberapa buku Ahmadiyah dinyatakan : “ Kami dengan bersungguh-sungguh mengatakan bahwa orang tidak akan dapat berjumpa dengan Allah di luar Ahmadiyah “  ( Da’watul Amir, Bashiruddin Mahmud Ahmad, Wisma Damai, 1989 : 377 ). MGA mengatakan : “ Orang-orang yang menentangku, mereka itu lebih najis dari pada babi. “ ( Najam Atsim : 21 ). “ Semua orang Islam harus percaya pada Nabi Mirza Ghulam Ahmad , kalau tidak, berarti mereka tidak tidak mengikuti ajaran-ajaran  al-Qur’an dan barangsiapa  yang tidak mengikuti al-Qur’an, ia bukan muslim, dan barang siapa yang mengingkari seorang nabi, menurut istilah agama Islam disebut Kafir “  ( Ahmadiyah Apa dan Mengapa, Syafi R. Batuah, 1968 : 41). MGA berkata :” Barangsiapa yang tidak percaya kepada wahyu yang diterima Imam yang dijanjikan, ia telah sesat sesesat-sesatnya, dan ia akan mati dalam kematian jahiliyah.” ( Mawahib ar-Rahman : 38)

Apa yang sedang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini merupakan bukti atau indikasi dari keberhasilan kekuatan global dalam melemahkan kekuatan kaum muslimin di Indonesia.  Strategi yang mereka lakukan dengan : pertama, Izharul Islam  yakni berpura-pura sebagai bagian dari kaum muslimin, tapi dari dalam mereka berusaha menghancurkan Islam, seperti yang dilakukan tokoh Yahudi bernama Abdullah bin Saba atau Ibnu Sauda pada masa khalifah Utsman bin Affan dan khalifah Ali bin Abi Thalib. Atau seperti yang dilakukan seorang orientalis Yahudi Belanda bernama Snouck Hurgronje di Indonesia pada masa penjajahan Belanda.  Kedua, dengan cara memecah belah umat Islam . Mulai dari penggunaan istilah-istilah yang antagonistik, seperti : Islam modern dengan Islam tradisional,  Islam radikal dengan Islam moderat, Islam Literal dengan Islam Liberal, Islam Rahmatan Lil-‘alamin  ( yg dimaksud Islam yang dekat dengan zionis ) dengan Islam teroris, dsb. Untuk meracuni opini publik, mereka menggunakan media massa yang memang mayoritas ada di bawah genggaman mereka, baik cetak maupun elektronik. Media-media itu beramai-ramai membentuk opini publik yang menyudutkan mereka yang menuntut pembubaran Ahmadiyah dengan sebutan  “ Preman berjubah “.

Apa yang dilakukan media masa nampak seperti skenario yang memang sudah dirancang oleh kekuatan global, seperti  yang ditulis Cheryl Bernard dari Rand Corporation, sebuah tangki pemikir dari kelompok neo-konservatif yang selama ini berada di belakang segala kebijakan George W.Bush.  dalam sebuah artikel yang diberi judul  “ Civil Democratic Islam, Partners, Resources, and Strategies “. Dimana langkah pertamanya dengan cara mengklasifikasikan umat Islam berdasar kecenderungan dan sikap politik mereka terhadap Barat dan nilai-nilai demokrasi. :  1) Kelompok Fundamentalis, yang menolak nilai-nilai demokrasi dan kebudayaan Barat kontemporer, mereka ingin menerapkan syariat Islam. 2) Kelompok Tradisionalis, mereka menginginkan sebuah masyarakat yang konservatif, mencurigai setiap modernitas, inovasi dan perubahan. 3) Kelompok Modernis, kelompok yang menginginkan dunia Islam bagian dari modernitas global.  dan 4) Kelompok Sekuler, yang menerima pemisahan agama dengan negara.  Strategi kedua,  setelah pengelompokan di atas adalah politik belah bambu, dengan cara mendukung  kelompok Tradisionalis, Modernis dan sekuler kemudian menjatuhkan dan mendeskriditkan  kelompok fundamentalis. Dalam dokumen itu dijelaskan secara rinci  langkah-langkah strategis politik belah bambu ini. Waspadalah !


Arsip Fikroh Risalah : Shiddiq Amien (Allohu Yarham)

Artikel Terkait


Asep Iwan G., M.Pd.I | Fikroh

Tambah Komentar

Komentar

Komentar tidak ditemukan