Stigma Teroris

Rabu, 27 Januari 2016 22:19:24

Facebook Google+ Twitter


Stigma Teroris

Teror berasal dari kata “ Terere “ bahasa latin , yang artinya menakut-nakuti atau yang menyebabkan ketakutan.  Jadi “ Teroris “ adalah orang atau kelompok orang atau bahkan negara dan penguasa yang membuat orang lain ketakutan. Jadi siapapun dan dimanapun pada dasarnya bisa melakukan aksi teror. 

Jurgensmeyer dalam bukunya  " Terror in the Mind of God, The Global Rise of Religious Violence " menjelaskan bahwa batas antara teroris dengan bukan teroris sangatlah tipis, tergantung  dari sudut pandang mana dan siapa yang menilai. Seseorang  seperti halnya Usamah bin Laden atau Imam Samudra oleh suatu negara dianggap sebagai seorang teroris, tapi oleh para pengikutnya, santrinya dan masyarakat yang bersimpati kepadanya mereka justru dipandang sebagai mujahid atau pejuang.  Sebaliknya dengan Ariel Sharon dan George W Bush oleh para pendukungnya mungkin dianggap sebagai pejuang HAM dan perdamaian, tapi oleh bangsa lain seperti Palestina, Irak, Afganistan, dsb. Justru keduanya diangap sebagai Super Teroris. Tapi karena media massa terkemuka baik nasional maupun internasional mayoritas dikuasai Yahudi dan Kristen, maka sekarang ini stigma atau tuduhan  teroris itu sepertinya identik dengan Islam. Bisa dikatakan dewasa ini sedang terjadi viktimisasi dan stigmanisasi atau pencitraan buruk terhadap Islam sebagai teroris. Sedang berlangsung perang menggempur Islam dengan selubung dan dalih terorisme. Seperti dikatakan oleh Prof. Richard Bulliet dari University of Columbia : “ We at some point are going to reach a threshold where people no longer need evidence to believe in a generic terrorist threat, from religious muslim fanatics “.  (  Orang AS suatu ketika akan percaya dan meyakini tanpa perlu bukti apapun, bahwa ancaman teroris selalu datang dari orang muslim fanatik. ). Apa yang dikatakan oleh Prof. Richard tersebut sekarang sudah jadi kenyataan, ketika terjadi aksi teror, telunjuk orang selalu dialamatkan kepada Islam atau gerakan Islam.

Pasca peristiwa 11 September 2001, stigma teroris berbalik 180 derajat, War Against Terrorism bergeser menjadi War Against Islam. masyarakat internasional seperti terjangkit penyakit paranoid, kemudian menabuh genderang perang dan melakukan perburuan internasional. Proses perburuan-pun berlangsung begitu cepat, sebelum kita sempat memahaminya. Dunia diilustrasikan sedang berada diujung kiamat oleh ancaman senjata nuklir dan biologi kaum teroris. Bangsa Afganistan yang mayoritas rakyatnya buta huruf, dengan usia harapan hidup rata-rata 48 tahun, dengan kondisi ekonomi termiskin di Asia, akibat perang melawan imperialisme Uni Soviet dan perang saudara yang berkepanjangan, telah menjadi korban pertama dari perburuan itu.  Disusul Irak sebagai korban berikutnya, kekejaman dan kebrutalan dengan kedok demokrasi dan kebebasan berlangsung setiap saat. Sentimen anti Islam terus dikobarkan. Bernard Lewis, dalam artikelnya berjudul “ The Roots of Muslim Rage “ yang dimuat dalam jurnal  Atlantic Monthly, September 1990, Samuel P. Huntington dalam buku terkenalnya  The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order  ( 1993 ) dan buku barunya  Who Are We ? : The Chalenges to America’s National Identity  ( 2004 ), Keduanya telah menempatkan Islam sebagai musuh utama “ Barat “ ( baca : Western Christendom = Dunia Kristen Barat ). Selain Afganistan dan Irak, Indonesia yang penduduknya mayoritas muslim juga dibidik sebagai sarang teroris, sarangnya Al-Qaeda dan Jamaah Islamiyyah (JI). Bantahan yang dikemukakan oleh banyak pihak, bahwa Indonesia bukanlah sarang teroris seakan dijawab  dengan  rentetan Bom di Indonesia mulai dari Bom Bali I ( 12 Oktober 2002 )  hingga Bom JW Marriott dan Ritz Carlton (17 Juli 2009 ). Diakui atau tidak, sebagian pelakunya adalah aktifis masjid, guru ngaji, alumni pesantren, dengan argumen dalam rangka  jihad. Sehingga kata “Jihad” kemudian banyak digugat, bahkan banyak yang kemudian menjadi  alergi menyebut dan mendengarnya. Buku-buku tentang jihad-pun diteliti ulang. Bahkan ada petinggi BIN yang mengusulkan agar buku-buku karya : Sayyid Qutub, Muhammad Qutub, Hassan Al-Banna, dsb supaya dilarang, bahkan dengan ngawur dan tendensius mengaitkan teroris dengan Wahabisme. Sepertinya ada upaya membangkitkan sentimen anti Wahabi.  Belakangan Polri juga berencana mengambil langkah kontroversial untuk mengawasi kegiatan ceramah Ramadan dengan menempatkan aparat kepolisian di tiap mesjid atau pesantren. Sebuah pengulangan sejarah terror oleh Negara model Orde Baru dulu. Kini bahkan ada fenomena orang berjubah, bercadar dan berjengotpun dicurigai. Ada upaya pencitraan sistemik  yang terus menerus dengan target menimbulkan stigma negatif terhadap Islam.  

Apa yang pernah dikatakan DR. Joseph Goebbels, juru propaganda Nazi dan Hitler bahwa jika kita mengulang-ngulang kebohongan sesering mungkin, dan dengan keteguhan, rakyat akan mempercayai kebohongan itu sebagai sebuah kebenaran. Pemerintah George W. Bush dibantu oleh media massa yang patuh telah membuktikan keampuhan kata-kata DR. Joseph Goebbles tersebut. Contohnya dalam kasus Irak di bawah regim Sadam Husein yang dituding memproduksi senjata pemusnah massal, mendukung al-Qaeda, dsb. Sehingga para pemimpin dunia banyak yang percaya dan mendukung langkah agresi AS dan sekutunya ke Irak, padahal di kemudian hari terbukti bahwa klaim Regim AS itu dusta belaka.  Hampir sepanjang sejarah, mainstream pers di Amerika dengan patuh mengambil peran sebagai unquestioning propagandists for the establishment ( corong setia bagi penguasa ). Demikian juga pers di Indonesia, seperti dikatakan Farid Gaban, direktur Yayasan Pena Indonesia, pers telah menjadi unquestioning propagandists bagi polisi, BIN, Gedung Putih, dalam kasus Jemaah Islamiyyah (JI) . Proses stigmanisasi  terjadi tanpa bisa dibendung, karena semua sumber berita datang dari saru pintu yakni aparat kepolisisan. Sementara wartawan tidak nampak upaya melakukan verifikasi terhadap klaim atau penjelasan polisi. Sebagain besar berita tentang terorisme bersumber dari polisi. Kebenaran berita menjadi bertumpu pada kredibilitas polisi. Sementara wartawan dan media massa sepertinya siap merendahkan martabatnya sekedar menjadi trashbin (keranjang sampah)  aparat tanpa upaya melakukan verifikasi atas klaim polisi.  Dari  mana datangnya sebutan Jemaah Islamiyah ? Bukankah sebalik dari Jemaaah Islamiyah adalah Jemaah Kafiriyah ? Tidakkah Jemaah Islamiyyah itu sebuah stigmanisasi yang dipublikasikan secara berulang-ulang lalu diterima sebagai sebuah fakta, tanpa ada upaya mengklarifikasi dan mengkritisi informasi polisi tersebut ?

Kita tidak sedang membantah kenyataan soal pelaku teroris di Indonesia yang sebagiannya dari kelompok Islam radikal yang fikirannya telah dikendalikan oleh gejala miopia atau penyempitan cara pandang dalam memaknai jihad. Mereka tanpa menyadari telah menari dengan tabuhan gendang dari negara yang paling mereka musuhi yakni AS. Mereka merasa berjihad  dengan bom bunuh diri ( bom istisyhad ) tetapi hakekatnya malah membuat lawan-lawannya (AS) tertawa karena mendapat pembenaran dari klaim atau tudingan mereka bahwa Islam identik dengan teroris. Bahkan tidak mustahil para pelaku terror itu tidak menyadari bahwa mereka telah masuk dalam grand scenario kekuatan anti Islam untuk mendeskriditkan Islam dengan mengeksploitasi semangat jihad mereka. 

Seorang wartawan di Jawa Tengah pernah melakukan verifikasi di lapangan pasca terbunuhnya DR. Azhari di Batu Malang Jawa Timur, dia mempertanyakan secara kritis berbagai kejanggalan : Benarkah terjadi baku tembak ?  fakta di lapangan tidak ada satupun rumah warga yang terkena peluru yang keluar dari rumah kontrakan DR. Azhari.  Benarkah bom meledak di rumah kontrakan? sejumlah saksi yang ia wawancarai mengatakan bahwa ketika ledakan terjadi sebagian petugas berangkulan, seolah merayakan sebuah sukses. Biasanya reaksi wajar pertama jika terjadi ledakan , adalah berlindung atau tiarap ? Benarkah rangkaian bom di kotak plastik dalam rumah kontrakan itu milik Dr. Azhari ? sebab biasanya jika bom yang satu meledak, maka getaran ledakan bisa membuat rangkaian bom lain ikut meledak ? Demikian juga kejanggalan dalam pengepungan buronan Ibrohim di Temanggung yang dikepung lk 600 pasukan Densus 88  selama 18 jam yang konon terjadi baku tembak, menurut sebuah stasiun TV dalam acara Realita dinyatakan tidak diketemukan di lokasi adanya ceceran darah,  lubang akibat tembakan di tubuh Ibrohimpun hanya satu? 

Problemnya karena media massa terus menerus menyajikan berita dari satu sumber, tanpa upaya verifikasi dan klarifikasi. Sehingga tanpa sadar bahwa apa yang sebenarnya " setengah fakta " kemudian ditelan masyarakat sebagai " benar-benar fakta ". Dunia nampaknya makin tidak beri'tikad baik terhadap Islam, dan iklim serupa juga menjangkiti mereka yang mengaku muslim, tapi tidak apa! Silahkan pengaruhi terus orang di muka bumi ini untuk membenci, mencurigai, bahkan meninggalkan Islam. Islam akan tetap Islam, tidak akan pernah berubah seincipun, Laa Raiba Fihi,  Insya Allah.


Tulisan Fikroh pada Majalah Risalah : STIGMA TERORIS

Oleh : Shiddiq Amien

Artikel Terkait


Asep Iwan G., M.Pd.I | Fikroh

Tambah Komentar

Komentar

Komentar tidak ditemukan