Fundamentalisme Dan Liberalisme

Selasa, 26 Januari 2016 23:19:04

Facebook Google+ Twitter


Fundamentalisme Dan Liberalisme

Judul Tulisan : FUNDAMENTALISME & LIBERALISME

Oleh : Shiddiq Amien

Fundamentalisme secara etimologis berasal dari kata fundamental yang mempunyai makna basic and important  ( mendasar dan pokok ). Fundamentalisme merupakan faham dan usaha mempertahankan dan mengamalkan ajaran-ajaran pokok suatu agama. Curtis Lee Laws mendefinisikan fundamentalis sebagai seorang yang siap untuk merebut kembali wilayah yang jatuh ke Anti-kristus dan melakukan pertempuran agung untuk membela dasar-dasar agama ( Karen Armstrong:2002). Istilah fundamentalisme seperti halnya istilah demokrasi, sekulerisme, sosialisme, belakangan sering dikaitkan dengan Islam, walaupun tidak memiliki akar dalam Islam, sehingga muncul istilah-istilah seperti: fundamentalisme Islam, demokrasi Islami, sosialisme Islam dan sebagainya. Fundamentalisme Islam belakangan sering diidentikan dengan teroris atau manusia yang tidak toleran,  ekstrim dan terbelakang. Kalangan ilmuwan dan cendekiawan muslimpun banyak yang ikut aktif memasarkan istilah ini, bahkan menuduh bahwa keterpurukan umat Islam saat ini disebabkan oleh fundamentalisme, mereka  lantas menjajakan liberalisme, yang mereka yakini sebagai sebuah ideologi yang membawa kemaslahatan dan kemajuan dunia. 

Istilah Fundamentalisme  dimunculkan pada awal abad 19 oleh kaum Kristen Protestan, sebagai reaksi terhadap mewabahnya sekulerisme  dan kemajuan ilmu pengetahuan, yang telah membawa dampak pada interpretasi terhadap Bible yang memiliki problem teks dan orisinilitas. Interpretasi yang menggabungkan nilai-nilai sekuler dengan metoda penafsiran filsafat Yunani , yakni hermeneutika. Dengan hermeneutika keberadaan Bible dan Tuhan menjadi tidak sakral, karena dalam konsep  ini teks Bible dianggap sama dengan teks-teks lainnya.

Hermeneutika bukanlah konsep asli teologi Kristen, melainkan pengaruh dari filsafat Yunani. Dulu orang Yunani menggunakannya sebagai sebuah metoda menafsirkan karya sastra dan mitos-mitos yang bersifat ketuhanan ( divine ). Bahkan konon hermeneutika sendiri berasal dari nama  seorang  tokoh dongeng Yunani, Hermes.  Metoda ini kemudian diadopsi oleh kalangan  Yahudi dan Kristen. Penyebab diadopsinya hermeneutika ini awalnya disebabkan problema yang dihadapi Bible. 

Setidaknya ada dua problem utama dalam Bible : Pertama, Problem teks.  Dalam teks Bible terdapat tiga bahasa yang digunakan : Bahasa Hebrew sebagai bahasa Kitab Perjanjian Lama ( Old Testament ); Bahasa Greek (Yunani) sebagai bahasa kitab Perjanjian Baru (New Tastemen) dan bahasa Aramaic  sebagai  bahasa yang digunakan Yesus. Persoalan muncul ketika hendak menerjemahkan dan menafsirkan Bible ke dalam bahasa lain. Sementara Bahasa Hebrew adalah bahasa kuno yang sudah tidak digunakan lagi, dan tidak ditemukan seorang native dalam bahasa ini. Maka untuk memahamaminya para teolog Yahudi dan Kristen terpaksa menggunakan bahasa yang serumpun denga Hebrew ( rumpun semitic ), yaitu Bahasa Arab untuk menangkap makna yang dikandung Bible. Dalam Encyclopedia Britanica disebutkan .... the search for the original semitic language was on...and Arabic with its primitive inflection soon became the firm favourite  as the primary witness to what that original language must have looked like. Walhasil Kalau kita perhatikan penggunaan hermeneutika sebenarnya  merupakan upaya menutupi kelemahan Bible. 

Kedua, Problem Orsinilitas.  Meski Perjanjian Lama yang ditulis dalam bahasa Hebrew merupakan kitab yang sangat  tua,  tapi masih menyisakan misteri yang belum terpecahkan hingga kini,  berkenaan dengan siapa yang menulis kitab ini.  Demikian juga dengan Kitab Perjanjian Baru  yang berbahasa Greek memiliki manuskrip dengan versi yang sangat banyak. Bruce M. Metzer menyebut adanya sekitar 5.000 menuskrip Perjanjian Baru, yang satu sama lainnya berbeda, bahkan kontardiktif. Disinilah peran utama hermeneutika untuk mencari “ nilai kebenaran Bible “ sekaligus juga untuk menutupi “lobang-lobang” serta kontradiksi-kontardiksi yang terdapat dalam Bible agar bisa dikompromikan dengan cara merekayasa makna, sehingga Bible bisa tetap dianggap sebagai kitab suci mereka.  Dalam Ensyclopedia Britanica disebutkan :  For both Jews and Christians throughout their histories, the primary purpose of hermeneutics, and of the exegetical methods employed in interpretation, has been to discover the truths and values of the Bible. 

Sejak peristiwa 11 September 2001 istilah :  Fundamentalis,Teroris, Militan dan Radikalis menjadi semakin sering kita dengar dan kita baca di media. Definisi dari stigma seperti itupun tidak pernah jelas. Malah  belakangan istilah-istilah itu selalu dialamatkan kepada Islam dan  muslimien. 

Persiden Bush dalam pidatonya di depan undangan National Endowment of Democracy  ( Kamis, 6 Oktober 2005 )  menyebutkan 6 kali kata-kata Islam radikal sebagai ideologi di balik aksi-aksi terorisme. Bush menyatakan :  “ The murderous ideology of the Islamic radicals, is the great challenge of our new century, like the ideology communism, our new enemy teaches that innocent individuals can be sacrificed to serve a political vision “  ( Idologi pembunuh Islam radikal adalah tantangan terbesar abad baru kita. Seperti idologi komunis, musuh baru kita mengajarkan bahwa seseorang yang tidak bersalah bisa dikorbankan untuk kepentingan sebuah visi politik ).    “ Some call this evil Islamic radicalism, others, militant Jihadism, still others, Islamo-fascism “   ( Beberapa menyebutnya dengan setan radikal Islam, yang lain menyebutnya militan jihad, ada juga yang menyebutnya sebagai Islam Fasis. ). Dalam bagian pidatonya dia juga mengatakan :  “ The militant believe that controlling one country will rally the muslim masses, enabling them to overthrow all moderate governments in the region, and establish a radical Islamic empire that spans from spain to Indonesia “  ( Kaum militan percaya, dengan mengontrol satu negara akan menggerakkan masa umat muslim, dan memberikan kemampuan kepada mereka untuk menggulingkan seluruh pemerintahan moderat di  wilayah itu, dan mendirikan sebuah imperium Islam radikal yang terbentang dari Spanyol sampai Indonesia. ). Jika Bush dan konco-konconya meng-agresi Afganistan dan Irak dengan menggunakan senjata pemusnah masal dan telah membunuh puluhan ribu orang tak berdosa di sana, tidakkah merasa dirinya sebagai Kristen atau Yahudi Radikal ? yang menjadi ancaman bagi perdamaian dunia ? Sebagaimana digambarkan oleh  cendekiawan Inggris Ziauddin Sardar dalam bukunya  “ Why Do People Hate America” ( Kenapa Orang Membenci Amerika ) dan buku  “ American Dream, Global Nightmare “  (Mimpi Amerika, adalah Mimpi Buruk Dunia). 

Pasca bom Bali-2 Departemen Agama RI telah membentuk Tim Penanggulangan Terorisme yang bertugas antara lain memberi pencerahan kepada generasi muda, sehingga mereka tidak gampang terjebak dalam  radikalisme  yang menyesatkan. ( Republika 27/11-05 ). Persoalan yang muncul kemudian adalah orang atau kelompok yang bagaimanakah yang dikatagorikan Radikal itu ?   John L.Esposito dalam bukunya   “ Islam : The Straight Path “  menyebutkan ada  enam ciri ideologi Islam Radikal. Pertama, Mereka berpendapat bahwa Islam adalah sebuah pandangan hidup yang komprehensif dan bersifat total, sehingga Islam tidak dipisahkan dari politik, hukum dan masyarakat.  Kedua, Mereka cenderung mengajak pengikutnya untuk kembali kepada Islam sebagai sebuah usaha untuk perubahan sosial.  Ketiga, Mereka seringkali menganggap bahwa ideologi masyarakat Barat yang sekuler dan materialistis harus ditolak.  Keempat, Karena idiologi masyarakat Barat harus ditolak, maka secara otomatis peraturan sosial yang lahir dari tradisi Barat juga harus ditolak. Kelima, Mereka tidak menolak modernisasi sejauh tidak bertentangan dengan standar ortodoksi keagamaan yang mereka anggap telah mapan, dan tidak merusak sesuatu yang mereka anggap sebagai kebenaran yang sudah final. Keenam, Mereka berkeyakinan bahwa upaya islamisasi pada masyarakat, tidak akan berhasil tanpa menekankan aspek pengorganisasian yang kuat. 

Jika ta’rif atau definisi ini yang akan dipakai untuk menilai radikal tidaknya seseorang atau sekelompok orang , maka kita, organisasi kita, atau siapapun juga yang selalu kritis terhadap pandangan hidup Barat yang sekuler, permisif dan materialistis, dan meyakini bahwa ajaran Islam sebagai solusi bagi kehidupan umat manusia, atau merasa memiliki karakteristik seperti tersebut di atas, maka bersiap-siaplah untuk dicap sebagai  “ Islam Radikal”. “ Islam Fundamentalis “, “ Islam Militan “ bahkan “ Teroris “.

Richard Nixon , mantan Presiden AS dalam bukunya Size The Moment menyebutkan lima karakteristik “ Islam Fundamentalis “ : 1) Mereka anti terhadap Peradaban Barat, 2) Mereka Ingin Menerapkan Syari’at Islam  3) Mereka ingin membangun Peradaban Islam, 4) Mereka Tidak memisahkan agama dengan negara ( seperti paham sekuler ), 5) Mereka menjadikan  “ Salafus Sholih “ sebagai panduan melangkah ke masa depan. 

Prof. Huntington, penasihat kawakan Gedung Putih dalam bukunya The Clash of Civilization and The Remaking of The World Order ( 1996 ) menyebutkan ciri Islam militan : “ We must distinguish between militant Islam and Islam in general, but militant Islam is clearly a threat to the West through terrorist and rougue state, that are trying to develop nuclear weapons and through a variety of other ways “  ( Kita mesti membedakan Islam Militan dengan Islam pada umumnya, Islam Militan adalah jelas-jelas merupakan ancaman bagi Barat melalui teroris dan negara jahat, yang mencoba mengembangkan senjata nuklir atau melalui cara-cara lainnya). 

Michel Lind, seorang penulis AS mengungkapkan bahwa impian kelompok Neo-Konservatif, yakni kelompok garis keras/radikal Zionis Yahudi, yang berada di sekeliling Bush seperti : Richard Perle, William Kristol, Donal Rumsfeld, Paul Wolfowitz, Rupert Murdoch, dsb. serta tokoh-tokoh Kristen Fundamentalis seperti : Jerry Falwell, Pat Robertson, dsb. untuk menciptakan sebuah “ Imperium Amerika “ sebenarnya ditentang oleh sebagian besar elite perumus kebijakan luar negri AS dan mayoritas rakyat AS. Lind juga menyebutkan, bahwa koalisi Bush-Sharon/ Ehud Olmert juga berkaitan dengan keyakinan, bukan karena faktor kebijakan. Itu bisa dilihat dari latar belakang Bush yang berasal dari keluarga Kristen                 ( Kalvinis sekte Metodis )  fundamentalis. Kata Lind :  “ There is a little doubt that the bonding between George W Bush and Ariel Sharon was based on conviction, not expedience. Like the Christian Zionist based of the Republican Party, George W Bush was devout Southern Fundamentalist. “

Jika Kriteria Islam Fundamentalis sudah banyak dibuat, lantas kenapa tidak dibuatkan juga Kriteria Kristen dan Yahudi Fundamentalis ?  Misalnya : 1) Mereka yang sangat membenci Islam dan muslimien , 2) Mereka yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, 3) Mereka yang dengan dalih demokrasi dan HAM seenak perutnya menginvasi bangsa dan negara lain. 4) mereka yang dengan dalih “ The New World Order” bermimpi mendirikan  “ Imperium Amerika “ atau  “ The Jewish State, Eretz Israel” ( Negara Yahudi, Israel Raya ) yang membentang dari Tel Aviv sampai New York. dan sebagainya. 

Selama ini orang Islam yang berjuang mempertahankan keyakinannya, hak-haknya, dan ‘izzahnya, melawan kezaliman dan arogansi kekufuran dan kekuasaan selalu dipersalahkan karena menggunakan dalil agama sebagai landasan perjuangannya. Bukankah manusia sekaliber George W Bush presiden dari sebuah negara “ Hyper Power” ketika menginvasi Afganistan dan Irak juga menggunakan dalih agama ? Stasiun TV BBC, 24 Oktober 2005, dalam acara bertajuk  “ Israel and Arab: Elusif Peace “ menguak misteri terorisme yang mempengaruhi jiwa Presiden Bush. Mentri Penerangan Palestina – Nabil Shaath, mengungkapkan kesaksiannya tentang motivasi  utama George W Bush, memerangi terorisme di negara-negara muslim. Pada bulan Juni 2003, dalam  pertemuan rahasia dengan petinggi Palestina, Bush melontarkan klaim tentang adanya perintah Tuhan untuk memerangi terorisme. Bush berkata kepada kami : " I am driven with a mission from God. God would tell me, eGeorge go and fight these terrorists in Afganistan. And I did. And then God would tell me eGeorge, go and end the tyranny in Iraq. And I did……." (“  Tuhan menyuruh saya,  ‘George pergi dan perangi teroris di Afganistan ‘ Itu sudah saya lakukan.  ‘George pergi dan hentikan tirani di Irak ‘ , ini juga sudah saya lakukan.  Dan kini, ‘ Bantulah Palestina mendirikan negara sendiri, dan bantu Israel menegakkan keamanan, dan ciptakan perdamaian di Timur Tengah ‘, Sayapun mengusahakannya.”

Prof. Edward S. Herman Guru Besar di Universitas  Pennslyvania dalam  bukunya The Real Terror Network, dunia banyak mengutuk  “ Retail Violence “  ( Radikalisme eceran) tetapi mendiamkan bahkan mendukung  “ Whole Sale Violence “ ( Radikalisme Borongan ); Dunia mengecam teroris  individual, dan membiarkan teroris negara ( State Terrorism ), hanya karena faktor ketidak berdayaan.  Ahmad Yassin Pemimpin Hammas, dalam keadaan sakit, dicap sebagai militan dan teroris oleh Israel, karena itu ia bisa dibunuh kapan saja, tanpa pertanggung jawaban apa-apa.

Liberalisme berasal dari bahasa latin  Liber, yang artinya bebas atau merdeka.  Dari sini muncul istilah  Liberal arts yang berarti ilmu yang sepatutnya dipelajari oleh orang merdeka, yaitu : arithmetik, geometri, astronomi, musik, grammatika, logika dan retorika. Sebagai ajektif kata liberal dipakai untuk menunjukan sikap anti feodal, anti kemapanan, rasional, bebas merdeka (independent), berfikiran luas dan terbuka (open-minded) dan oleh karena itu merasa hebat (magnanimous ). 

Dalam Politik, liberalisme dimaknai sebagai sebuah sistem yang menentang mati-matian sentralisasi dan absolutisme kekuasaan. Munculnya republik-republik dengan sistem demokrasi menggantikan kerajaan atau kesultanan tidak lepas dari liberalisme ini. 


Dalam bidang ekonomi, liberalisme menunjuk kepada sistem pasar bebas, dimana peran dan intervensi pemerintah sangat dibatasi. Kini liberalisme ekonomi menjadi identik dengan kapitalisme. Negara-negara miskin cenderung menjadi wilayah pinggiran bagi perekonomian negara-negara kaya. Peran pemerintah yang mestinya melayani dan melindungi kepentingan rakyatnya, bergeser menjadi melayani dan melindungi kepentingan para pemodal internasional yang telah menginvestasikan modalnya di negara tersebut. Bahkan tidak jarang kebijakan ekonomi negara-negara miskin secara terang-terangan mengambil posisi berlawanan dengan aspirasi rakyat mereka sendiri. 

Agama Kristen mulai bersinar di Eropa ketika pada tahun 313 Kaisar Konstantin mengeluarkan surat perintah (edik) yang isinya memberi kebebasan kepada warga Romawi untuk memeluk Kristen. Bahkan pada tahun 380 Kristen  dijadikan sebagai agama  negara oleh Kaisar Theodosius. Menurut edik Theodosius semua warga negara Romawi diwajibkan menjadi anggota gereja Katolik. Agama-agama kafir dilarang. Bahkan sekte-sekte Kristen di luar “gereja resmi” pun dilarang. Dengan berbagai keistimewaan ini, Kristen kemudian menyebar ke berbagai penjuru  dan dunia, bahkan menjadi sebuah imperium yang otoriter dengan selalu mengatasnamakan kehendak Tuhan.

Liberalisme muncul di Eropa sebagai reaksi dan perlawanan atas otoriteritas gereja yang dengan mengatasnamakan Tuhan telah melakukan penindasan. Konon tidak kurang dari 32.000 orang dibakar hidup-hidup atas alasan menentang kehendak Tuhan. Galileo, Bruno dan Copernicus termasuk di antara saintis-saintis yang bernasib malang karena melontarkan ide yang bertentangan dengan ide Gereja. Untuk mengokohkan dan melestarikan otoriteritas itu, Gereja membentuk institusi pengadilan yang dikenal paling brutal di dunia sampai akhir abad 15, yaitu Mahkamah Inkuisisi. Karen Armstrong dalam bukunya Holy War :  The Crusade and Their Impact on Today’s World (1991:456) menyatakan : Most of us would agree that one of the  most evil of all Christian institutions was the Inquisition, which was an instrument of terror in the Chatholic Chuch until the end of seventeenth century. Despotisme Gereja ini telah mengakibatkan pemberontakan terhadap kekuasaan Gereja. Kaum liberal menuntut kebebasan individu yang seluas-luasnya, menolak klaim pemegang otoritas Tuhan, menuntut penghapusan hak-hak istimewa gereja maupun raja. Liberalisme membolehkan setiap orang melakukan apa saja sesuai dengan kehendaknya. Manusia tidak lagi harus memegang kuat ajaran agamanya, bahkan kalau ajaran agama tidak sesuai dengan kehendak manusia, maka yang dilakukan adalah melakukan penafsiran ulang ayat-ayat Tuhan agar tidak bertabrakan dengan prinsip-prinsip dasar liberalisme. Wajar jika kemudian berbagai tindakan amoralpun seperti : homoseksual, sek bebas, aborsi, dan juga berbagai aliran sesat dan menyesatkan dalam agama dianggap legal karena telah mendapatkan justifikasi ayat-ayat Tuhan yang telah ditafsir ulang secara serampangan dan kacau. 

Di antara sejumlah tokoh yang berani menentang otoritas Gereja adalah Nicolaus Copernicus (1543 M)  dengan teori Heliosentris-nya yang menyatakan bahwa Matahari sebagai pusat Tata Surya. Sebuah teori yang mentang ajaran Gereja yang sekian lama memegang filsafat Ptolomaeus yang menyatakan bahwa bumi-lah sebagai pusat ( Geo-centris). Perjuangannya diikuti  Gardano Bruno (1594M), fisikawan Jerman Johannes Kapler (1571 M) Galileo Galilei (1564 M) dan Issac Newton (1642 M). John Lock (1704 M ) kemudian  mengusung liberalisme bidang politik dengan menyodorkan ideologi yang mendorong masyarakat untuk membebaskan diri dari kekangan Gereja waktu itu.  Adam Smith (1790M) mengusung liberalisme di bidang ekonomi yang memberi kebebasan kepada masyarakat untuk menjalankan kegiatan ekonominya tanpa intervensi dari pemerintahan gereja atau pemerintahan raja yang didukung gereja.

Ketika otoritas gereja runtuh, bangsa Eropa terpecah menjadi dua aliran besar dalam menyikapi agama. Pertama Aliran Deisme, yaitu mereka yang masih mempercayai adanya Tuhan, tapi tidak mempercayai ayat-ayat Tuhan. Tokoh-tokohnya antara lain : Martin Luther, John Calvin, Isaac Newton, John Lock, Immanuel Khan, dsb. Dan kedua Aliran  Materialisme atau Atheisme. Aliran ini menganggap bahwa agama merupakan gejala masyarakat yang sakit. Agama dinilai sebagai candu atau racun bagi masyarakat.  Di antara tokohnya:. Hegel, Ludwig Feuerbach, dan Karl Marx.  Ketidak percayaan kepada Tuhan diusung pula oleh Charles Darwin ( 1809-1882 M ) dalam bukunya The Origin of Species by Means Natural Selection (1859M)  Melalui teori Evolusinya Darwin mencoba memisahkan intervensi Tuhan dalam penciptaan alam dan makhluk hidup di muka bumi ini. Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa Liberalisme merupakan upaya keluar dari kekangan ajaran Kristen yang bermasalah. Liberalisme telah mengantarkan masyarakat Barat menjadi orang atheis atau paling tidak Deis. 

Di bidang Sosial kaum liberalis telah melegalkan Homoseksual. Dignity, sebuah organisasi Gay Katolik Internasional pada tahun 1976 saja sudah memiliki cabang di 22 negara bagian AS. Di Australia ada organisasi serupa Acceptance, di Inggris ada Quest, di Swedia ada Veritas. Fakta yang fenomenal terjadi ketika Nopember 2003  seorang pendeta bernama Gene Robinson yang notabene seorang homoseks telah dilantik menjadi Uskup Gereja Anglikan di New Hampshire. Liberalisme mengajarkan bahwa Seks bebas dan aborsi sebagai privasi individu yang tidak boleh dicampuri oleh aturan agama atau nilai-nilai yang berlaku di masyarakat, selama individu tersebut senang, sukarela, suka sama suka. Masyarakat dan agama tidak boleh menghakimi mereka. Padahal dampak terkejam dari prilaku seks bebas adalah kecenderungan manusia untuk lari dari tanggung jawab. Ketika terjadi kehamilan, jalan yang ditempuh adalah aborsi. Dengan demikian esensi dari free-sex itu adalah pembunuhan terhadap manusia. Kaum liberalis menuntut emansipasi wanita, kesetaraan gender dengan mengabaikan nilai-nilai agama. Dengan jargon kebebasan (liberty) dan persamaan (egality), kaum feminis secara ekstrim telah memunculkn semangat melawan dominasi laki-laki sebagai pemimpin dalam keluarga. Banyak pria atau wanita yang lebih memilih hidup sendiri. Kebutuhan seksual dipenuhi dengan zina (free-sex), kebutuhan akan anak dipenuhi dengan adopsi dan bertindak sebagai single parent. Jika tidak mau direpotkan dengan anak, maka aborsi jadi solusi. Sejumlah negara Barat telah melakukan ” Revolusi Jingga “ dengan mengesahkan undang-undang yang melegalkan perkawinan sejenis. 

Liberalisasi di bidang Agama :

Semua Agama, baik yang masih eksis ataupun yang sudah mati, yang samawi maupun yang kultur atau budaya, lahir lengkap dengan klaim “ kebenaran “. Terlepas apakah klaim itu valid atau tidak, argumentatif atau tidak, rasional atau irrasional.

Setidaknya ada tiga macam cara dalam memandang kebenaran itu : Eksklusivisme, Inklusivisme, dan Pluralisme. 

Eksklusivisme, adalah kebenaran absolut hanya dimiliki agama tertentu secara eksklusif , tidak memberikan alternatif bahkan konsesi sedikitpun dan tidak mengenal kompromi.  Yudaisme, mempunyai doktrin “ the Choosen People “ ( bangsa pilihan ). Kebenaran dan keselamatan hanya berdasar etnisitas ( berdasar keturunan ) yang sempit, yaitu bangsa Yahudi.  Katolik, punya doktrin : “  Extra Ecclesium Nulla Salus” ( di luar gereja katolik tidak ada keselamatan ).  Protestan, punya doktrin “Outside Christianity No Salvation “  ( di luar Krsiten tidak ada keselamatan ) dan Islam dengan dasar firman Allah di QS Ali Imran : 19 dan 85 mempunyai doktrin : “Agama Allah adalah Islam dan Barangsiapa yang menganut agama selain Islam tidak akan diterima dan di akhirat rugi. “.

Inklusivisme, sebuah klaim yang lebih longgar. Inklusisvisme mengklaim bahwa hanya satu agama yang benar, tapi juga mencoba mengakomodasi klaim agama lain, kebenaran dan keselamatan dimungkinkan penganut agama lain. Teologi Inklusif awalnya muncul di dunia Kristen dalam merespons merebaknya teologi Pluralisme yang menilai bahwa teologi eksklusif itu ketingalan zaman. Teologi ini diterima secara resmi dalam konsili Vatikan II ( 1962-1965 ) dengan disepakatinya teologi “ Inklusif Pluralis “ yang mengandung makna, bukan hanya Katolik yang benar dan selamat, tapi di luar Katolik dimungkinkan adanya kebenaran dan keselamatan. 

Pluralisme, sebuah teologi yang muncul dan didesain dalam setting sosial-politik humanisme sekuler Barat yang bermuara pada tatanan demokrasi liberal.  Pluralisme ingin tampil sebagai klaim kebenaran baru yang humanis, ramah, santun, toleran, cerdas, dan demokratis. Hal ini dikatakan oleh tokohnya, John Hick.  Semua agama, baik yang tesitik maupun non-teistik, dianggap sebagai sama, sebagi ruang atau jalan yang bisa memberikan keselamatan, kebebasan, dan pencerahan, semua agama benar. Karena pada dasarnya semua agama merupakan respon yang beragam terhadap hakikat ketuhanan yang sama.  Agama dianggap sebagai pengalaman keagamaan. Kemungkinan datangnya agama dari Tuhan atau Dzat Yang Maha Agung dinafikan dan ditolak mentah-mentah. 

Tokoh seperti Joachim Wach, seorang ahli perbandingan agama kontemporer bahkan mendefinisikan bahwa pengalaman keagamaan sebagai agama itu sendiri. Lahirlah kesimpulan bahwa semua agama sama secara penuh tanpa ada yang lebih benar daripada yang lain. Sebuah kesimpulan yang menyulitkan mereka sendiri, ketika muncul pertanyaan : “ Apakah agama Kristen, dan Islam sama persis dengan agama-agama primitif dan paganis (penyembah berhala)  yang kanibalistik ?”

Dalam wacana pemikiran Islam , Pluralisme Agama masih merupakan hal baru dan tidak memiliki akar idiologis dan teologis yang kuat. Pluralisme agama lebih merupakan perspektif baru yang ditimbulkan oleh penetrasi kultur Barat. Malah ada yang menyebut merupakan rekayasa Freemasonry Internasional, sebuah organisasi Yahudi yang sejak awal mengusung slogan :  “ Liberty, Egality dan Fraternity” (Kebebasan, Persamaan, dan Persaudaraan ), dan mempropagandakan persaudaraan universal tanpa memandang etnis, bangsa, dan agama. Organisasi ini muncul sebagai ‘baju’ untuk menyerukan penyatuan tiga agama ( Yahudi, Nashrani dan Islam ) dengan agama universal dan mengikis belenggu fanatisme terhadap agamanya.  Dalam IslamWacana Pluralisme ini baru muncul pasca perang Dunia II, ketika terbuka kesempatan bagi generasi muda muslim untuk mengenyam pendidikan di universitas-universitas Barat, terutama mereka yang mengambil jurusan Studi Islam dengan dosen-dosen Yahudi dan Krsiten atau Para Orientalis. Dalam waktu yang bersamaan, gagasan Pluralisme agama ini menembus dan menyusup ke dalam wacana pemikiran Islam. Antara lain melalui karya-karya pemikir-pemikir mistik Barat Muslim seperti Rene Guenon ( Abdul Wahid Yahya ) dan Frithhjof Schon ( Isa Nuruddin Ahmad ). Buku-buku mereka seperti The Transcendent Unity of Religion, sangat sarat dengan tesis-tesis  atau gagasan-gagasan yang menjadi inspirasi dasar bagi tumbuh dan berkembanganya wacana pluralisme agama.  Sayyed Hossein Nasr, seorang tokoh  Syi’ah, termasuk yang ikut mempopulerkan teologi Pluralisme.  Nasr telah menuangkan tesisinya tentang Pluralisme agama dalam kemasan Sophia perennis atau perennial wisdom ( Al-Hikmat al-Khalidah atau kebenaran abadi ), yaitu sebuah gagasan menghidupkan kembali kesatuan metafisikal ( metaphysical unity ) yang tersembunyi di balik ajaran dan tradisi-tradisi keagamaan yang pernah dikenal sejak zaman Nabi Adam as. Menurut Nasr, memeluk atau meyakini satu agama dan melaksanakan ajarannya secara keseluruhan dan sungguh-sungguh, berarti juga telah memeluk seluruh agama, karena semuanya berporos kepada satu poros, yaitu kebenaran yang hakiki dan abadi. Perbedaan antar agama dan keyakinan, menurut Nasr, hanyalah pada simbol-simbol dan kulit luar. Inti dari agama tetap satu. 

Budhy Munawar Rahman , dosen filsafat di Universitas Paramadina Jakarta, dalam tulisannya di situs www.Islamlib.com, 13 Januari 2002 , Ia mencoba memaksakan teologi Pluralis dengan melihat agama-agama lain sebanding dengan agama Islam. Terhadap QS. Ali Imran : 19 dan 85 dia mengajak orang-orang untuk memahaminya dengan semangat inklusivisme, semangat  “Agama Universal “ dimana Islam diberi makna sebagai agama yang penuh kepasrahan kepada Allah swt. Sehingga semua agama bisa dimasukkan ke dalamnya, asalkan berpasrah diri kepada Allah. 

Muhammad Ali, Dosen UIN Jakarta dalam tulisannya di harian  Republika, tgl 14 Maret 2002  dalam judul Hermeneutika dan Pluralisme Agama, juga mengajak agar tidak memahami QS. Ali Imran : 19 dan 85 itu dalam bingkai teologi eksklusif yakni keyakinan bahwa jalan kebenaran dan keselamatan bagi manusia hanyalah dapat dilalui melalui Islam. Ayat-ayat itu harus dipahami dengan teologi pluralis dan teologi Inklusif.  Nurcholis Madjid yang merupakan salah seorang tokoh pengusung telogi Pluralisme dalam kata pengantar  buku Pluralitas Agama Kerukunan dalam Keragaman menyatakan : “ Kendatipun cara, metoda atau jalan keber-agamaan menuju Tuhan berbeda-beda, namun Tuhan yang hendak kita tuju adalah Tuhan yang sama, Allah yang Maha Esa. “ Kalimat ini jelas menunjukkan bahwa ia mengakui keberadaan dan kebenaran semua agama, dan menyejajarkan satu agama dengan agama lainnya, sehingga Islam sama dengan agama Kristen, Yahudi, Hindu, Budha, Majusi, Shinto, Konghuchu, dsb ? Karena semua agama menuju tuhan yang sama dengan cara yang berbeda.  Quraisy Shihab dalam mengomentari QS. Al-Baqarah : 120 yang menyatakan : “ Orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan ridla kepadamu sampai engkau  mengikuti agama mereka “ menyatakan bahwa ayat tersebut dikhususkan kepada orang Yahudi dan Kristen tertentu yang hidup pada zaman Nabi Muhammad saw, dan bukan kepada umat Kristen dan Yahudi secara keseluruhan. Demikian juga tetang izin Allah untuk memerangi orang kafir, itu bukan diperuntukkan terhadap Yahudi dan Kristen yang termasuk Ahlul Kitab. ( Pluralitas Agama, Kerukunan dan Keragaman : 26 ). 

Para Pengusung Liberalisme dan Pluralisme ini juga sangat menentang penerapan Syari’at Islam, karena akan mendeskriditkan penganut agama lain, akan menzalimi kaum wanita, banyak syari’at Islam yang dinilainya bertentangan dengan HAM, Demokrasi, Gender Equality  (Kesetaraan Gender) dan Pluralisme. . Ulil Absar Abdalla pengerek bendera JIL pernah mengatakan :  “ Setiap doktrin yang hendak membangun tembok antara “kami “ dan “ mereka “ , antara Hizbullah ( golongan Allah ) dan Hizbus Syaithan ( golongan syetan) adalah penyakit sosial yang akan menghancurkan nilai dasar Islam itu sendiri, nilai tentang kesederajatan umat manusia, nilai tentang manusia sebagai warga dunia.”  Dia juga mengatakan bahwa amat konyol umat manusia bertikai karena perbedaan ‘baju’ yang dipakai, sementara mereka lupa  inti ‘memakai baju’  adalah untuk menjaga martabat manusia sebagai makhluk yang berbudaya. Semua agama adalah baju, sarana, wasilah, alat untuk menuju tujuan pokok : penyerahan diri kepada Yanga Maha Benar. Dengan pemikiran ini berarti dia ingin menganulir firman Allah yang membagi manusia menjadi dua golongan, Hizbullah dan Hizbus syaithan seperti yang tertuang dalam Al-Qur’an :

وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ

Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.  QS. Al-Maidah : 56

اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنْسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ حِزْبُ الشَّيْطَانِ ۚ أَلَا إِنَّ حِزْبَ الشَّيْطَانِ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi.  QS. Al-Mujadilah : 19

Dengan demikian bagi kaum pluralis  dan liberalis , semua manusia sama, tidak ada mukmin tidak ada kafir, tidak ada manusia tha’at dan tidak ada manusia bejat, mereka telah mengangkat kesesatan dan kekufuran  dan kemusyrikan sejajar dengan hidayah, tauhid dan ketakwaan. Dan pada akhirnya sikap antipati terhadap segala mecam kesesatan dan kemunkaran akan sirna. Menurut slogan kaum pluralis : “ Agama-agama seperti Yahudi, Nashrani dan Islam , ibaratnya seperti keberadaan empat madzhab fiqih di tengah-tengah kaum muslimin, semuanya pada hakikatnya menuju kepada Allah. Dampaknya lainnya dari pemahaman seperti ini, ketika semua agama dianggap sama, tidak ada beda selain tata cara dan bajunya, maka umat yang “ sendiko dawuh “ dengan paham pluralisme ini tidak akan memiliki ghirah atau kecemburuan dalam beragama. Baginya tidak ada keistimewaan pada Islam jika dibanding dengan Kristen misalnya. Karena semua agama sama, dengan tuhan yang sama hanya beda cara memanggil atau menyebut dengan baju dan cara yang beda. Pada saat yang bersamaan , secara finansial para missionaris Kristen yang banyak melakukan pendekatan dakwah dengan finansial, secara logika manusia normal, ketika seseorang harus memilih antara dua agama yang sama-sama dianggap benar, tentunya variable lain yang akan dijadikan alat timbang adalah keuntungan materi. Mereka akan dengan ringan melepas ‘baju ‘ Islam untuk mendapatkan duit atau materi dengan memakai ‘ baju ‘ Kristen. Dan ini akan merupakan kontribusi atau sumbangan sangat berharga kaum pluralis dan Liberalis bagi suksesnya missi kristenisasi.

Teologi Pluralisme yang diusung kaum Liberalis ini sebenarnya telah ketinggalan zaman, kalau kita memperhatikan pernyataan para pakar sejarah dan teolog Kristen, seperti : 1) Uskup John Shelby Spong dalam bukunya Why Cristianity Must Change or Die ( 1998 ) ( mengapa agama Kristen harus berubah atau akan Mati ) menyatakan: “ Kita harus membebaskan Yesus dari kedudukannya sebagai Juru Selamat…. Ajaran ini harus dicabut dan dibuang. “   2) Reverend DR Charles Francis Potter dalam bukunya The Lost Years of Yesus Revealed ( 1992 ) menyatakan : “ Para pemuka agama Kristen tidak dapat dimaafkan untuk ( memepertuhankan Yesus ) dengan memanfaatkan keterbatasan … berfikir orang-orang palestina 2000 tahun yang lalu. “  3) John Davidson dalam bukunya The Gospel of Yesus ( 1995 ) menyatakan : “Barangkali kita ( umat Kristen ) telah tersesat selama 2000 tahun.”   Ketiga contoh di atas memperlihatkan ketiga pakar dan teolog tersebut bukannya mengatakan bahwa agama mereka, Krsiten, adalah agama yang benar, mereka malah mengakui sebaliknya, agama mereka ternyata agama yang salah dan menyesatkan.   John Shelby Spong dalam bukunya Rescuing the Bible From Fundamentalism ( 1991 ) malah menyatakan : “ Dia ( Paus Paulus ) tidak menulis firman Allah, yang dia tulis adalah kata-katanya sendiri yang khusus, penuh keterbatasan serta memiliki kelemahan sebagai ciri seorang manusia. “. Aneh bin ajaibnya  kaum Pluralis liberalis di Indonesia malah ngotot menyatakan bahwa Kristen sama dengan Islam ?

Seorang tokoh JIL dalam Jawa Pos ( 11/1-2003 ) menyatakan : “ Bagi saya All Scriptures are Miraccles “  ( Semua kitab suci adalah mukjizat ), Subhanallah ! Berarti Al-Qur’an bagi dia sejajar dengan kitab Weda dan Bagawad Gita-nya Hindu, Tripitaka-nya Budha, Su Si-nya Konghuchu, Tao The Ching-nya  Taoisme, Darmo Gandul dan Gatholoco-nya Aliran Kebatinan.  Padahal tentang Taurat  saja Allah telah berfirman : 

مِنَ الَّذِينَ هَادُوا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَيَقُولُونَ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَاسْمَعْ غَيْرَ مُسْمَعٍ وَرَاعِنَا لَيًّا بِأَلْسِنَتِهِمْ وَطَعْنًا فِي الدِّينِ ۚ وَلَوْ أَنَّهُمْ قَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَاسْمَعْ وَانْظُرْنَا لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَقْوَمَ وَلَٰكِنْ لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُونَ إِلَّا قَلِيلًا

“Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata: "Kami mendengar", tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan (mereka mengatakan pula): "Dengarlah" sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa. Dan (mereka mengatakan): "Raa'ina", dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan: "Kami mendengar dan menurut, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami", tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis. ”.  QS. An-Nisa : 46

Tentang Injil yang dikarang oleh para penulisnya , Allah telah menegaskan :

فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَٰذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۖ فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ

Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan. QS. Al-Baqarah : 79

Rasulullah saw. dalam sebuah haditsnya yang diriwayatkan oleh Imam Muslim no 153 yang diberi judul bab oleh Imam An-Nawawi  “ Wujubul Iman bi Risalatin Nabi saw Ila Jami’in Nasi Wa Naskhul Milali bi Millatihi “  menegaskan : “ Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, tidaklah mendengar dariku seseorang dari umat ini, baik orang Yahudi maupun Nashrani, kemudian ia mati dalam keadaan ia tidak beriman dengan risalah yang aku bawa,  pasti ia kan masuk neraka. “

Allah swt dalam banyak ayat juga telah dengan tegas menyatakan bahwa Yahudi dan Kristen itu kafir: 

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ أُولَٰئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ.

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ.

Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. QS. Al-Bayyinah : 6-7

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ ۖ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ ۖ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ ۘ وَمَا مِنْ إِلَٰهٍ إِلَّا إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۚ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putera Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu" Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: "Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga", padahal sekali-kali tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. QS. Al-Maidah 72-73

Artikel Terkait


Asep Iwan G., M.Pd.I | Fikroh

Tambah Komentar

Komentar

Williamet

Pengunjung

Williamet

Kamis, 26 Mei 2016 13:36:11

I really enjoy the article post.Thanks Again. Cool. Lehmberg