Konservatisme

Selasa, 26 Januari 2016 21:05:22

Facebook Google+ Twitter


Dalam Kamus Ilmiah Populer, Burhani MS – Hasbi Lawrens , Konservatisme  diartikan :  berpendirian kolot, paham mempertahankan adat atau kebiasaan lama.  Dalam politik , konservatisme atau lazim disebut " Sayap Kanan " ( Right Wing ) adalah sebuah paham yang berbasis pada empat nilai utama : otoritas, hierarkhi, pemilikan, dan komunitas.  Pemikiran politik konservatif bermula sebagai upaya mempertahankan otoritas tradisional di semua lapisanan masyarakat, terutama otoritas keagamaan tradisional dalam menghadapi skeptisisme radikal dan sekuler liberal.  Kalangan konservatif juga berkepentingan untuk mempertahankan hierarkhi tradisional dan garis keturunan, mereka cenderung mendukung monarkhi serta aristokrasi, juga bersikap anti imigran.  Kalangan konsevatif  punya komitmen terhadap hak-hak milik perseorangan, mereka bersebrangan dengan pendukung sosialisme dan komunisme.  Kaum konservatif berusaha mempertahankan dan membangun komunitas solidaristik karena kesamaan perasaan, keturunan, bahasa, budaya, agama dan kebangsaan. 

Sejak tahun 2000 gelombang pasang  Konservatisme  telah melanda Eropa, Australia, dan Amerika Serikat. Dalam pemilu presiden Prancis 2002, Jean Marie Le Pen, pimpinan partai konsevatif radikal  ( French National Front )  menempati urutan kedua. Dalam pemilu parlemen Belanda  Partai Konsevatif Kristen Demokrat (CDA) tampil sebagai pemenang, disusul pada urutan kedua Partai Konsevatif Radikal (LPF) pimpinan Pim Fortuyn yang pernah mengatakan bahwa  agama Islam terbelakang ( backward ) dan meminta pemerintah Belanda untuk menutup pintu bagi imigran.  Danish People's Party , sebuah partai konservatif radikal Denmark menguasai 22 kursi parlemen. Pada Pemilu 2000 di Swiss, partai konsevatif radikal, Freedom Party, tampil sebagai pemenang.  Di Australia, koalisi konservatif John Howard terus mengusai parlemen.  Dan di AS kemenangan George W Bush atas Bill Clinton pada pemilu presiden 2001 telah menjadi momen emas bagi kalangan radikal Republikan yang berbasis krsiten fundamentalis dan  neo-konservatif yang berbasis imigran Yahudi untuk merealisasikan agenda-agendanya.

Naiknya Kardinal Joseph Alois Ratzinger menjadi Paus Benediktus XVI  yang berpaham konsevatif menggantikan Paus Yohanes Paulus II  juga telah memudarkan langkah produktif bagi hubungan Kristen – Islam yang telah dilakukan oleh Paus Yohanes Paulus II. Bahkan dari beberapa kali pernyataannya, telah mengundang banyak reaksi dari banyak kalangan. Khususnya pernyataan terakhir, Selasa 12/9-2006 di Universitas Regenberg, Jerman. Paus menyatakan bahwa Kristen sebagai agama kedamaian dan logika, sementara Islam agama teror dan kekerasan. Sebuah pernyataan yang muncul dari kecemasannya atas perkembangan Islam di berbagai kawasan, khsusunya di dunia Barat yang notabene beragama Kristen. Permintaan Paus agar Jihad yang dinilainya sebagai ajaran kekerasan dan tidak sesuai dengan sifat Tuhan harus segera diakhiri, menunjukkan bahwa Paus tidak paham makna jihad. Jihad dalam Islam mempunyai makna antara lain perlawanan suci untuk membela agama, negri dan jiwa umat Islam dari serangan para agresor dan kolonialis. Bukankah seluruh agama samawi, hukum internasional, juga akal dan nurani yang sehat memberikan hak kepada siapapun untuk membela diri dari serangan pihak lain. Untuk itu Islam mengakui hak bangsa Palestina, Irak, Afganistan, dsb untuk menghadapi dan membela diri dari penjajah dan penjarah negri mereka. Pernyataan Paus Benediktus XVI  yang menuntut diakhirinya jihad, sama dengan menuntut bangsa-bangsa tertindas semisal Palestina, Irak dan Afganistan agar menyerah pasrah di hadapan  rezim Zionis Israel, serta neo-kolonialis Amerika Serikat dan Sekutunya. 

Mencermati kebijakan-kebijakan George W Bush, yang telah menjurumuskan AS menjadi sebuah negara yang ditakuti sekaligus dibenci, nampaknya ada dua arus yang berpengaruh kuat. Pertama,  Bush adalah seorang Krsiten Fundamentalis Evangelis, serta keluarganya yang sangat dekat dengan pemuka-pemuka gereja konservatif, terutama Reverend Moon, dan Jerry Falwell.  Jika pelaku teror lokal sering dituduh oleh para ulama sebagai telah memanipulasi ajaran Islam untuk melakukan aksi teror mereka, maka Bush-pun telah memanipulasi ajaran Kristen untuk mencapai tujuan politiknya, dengan menginvasi Afganistan dan Irak.  Pada Juni 2003 atau sekitar tiga bulan setelah invasi AS dan sekutunya ke Irak  Bush mengadakan pertemuan dengan sejumlah tokoh Palestina di antaranya  Mahmoud Abbas ( kini Presiden ) dan Menlu (saat itu ) Nabil Shaat di resor Sharm el Sheikh, Mesir. Bush berkata : " I am driven with a mission from God. God would tell me, eGeorge go and fight these terrorists in Afganistan. And I did. And then God would tell me eGeorge, go and end the tyranny in Iraq. And I did." ( Saya menjalankan misi Tuhan. Tuhan mengatakan eGeorge perangilah para teroris di Afganistan. Dan saya sudah lakukan. Kemudian Tuhan mengatakan : eGeorge hancurkan tirani di Irak. Dan itu sudah saya lakukan. ).  Cerita tersebut diungkap Nabil Shaat kepada jaringan televise BBC London dalam acara  yang bertajuk : Elusive Peace : Israel and the Arabs, yang ditayangkan pada tgl. 10, 17 dan 24 Oktober 2005. 

Pernyataan Bush tersebut kontan menuai reaksi dan kecaman dari kalangan Kristen sendiri. Andrew Blackstock, direktur Christian Socialist Movement menyatakan bahwa jika Bush benar-benar ingin mematuhi ajaran agama, maka seharusnya dia berpijak pada apa yang sudah jelas tersurat dalam Al-Kitab. Bukan menonjolkan hal-hal yang ghaib.  Sungguh sebuah hal yang sangat aneh, di sebuah negara yang super maju dan sangat sekuler, ada seorang presiden yang mengaku menjalankan kebijakannya atas dasar wangsit dari Tuhan, tak ubahnya seorang dukun atau para normal atau kepala suku terbelakang.  Para Uskup dari Bath and Wells, Oxford, Coventry, and Worcester dalam laporan 100 halaman berjudul : Countering  Terrorism : Power, Violence and Democracy Post 9/11, antara lain menekankan pengaruh negatif dari teologi palsu kaum neo-konservatif dan fundamentalis di AS. Menurut mereka tidak satu negara pun yang berhak memandang dirinya sebagai bangsa penebus dosa atau juru selamat yang dipilih Tuhan sebagai bagian dari rencana yang sudah ditakdirkan Tuhan. 

Kedua, pengaruh kuat dari kaum ektrimis yang ada di sekitar Bush. Yang terdiri dari : Kalangan Kristen Fundamentalis, dan  Kelompok Neo-Konsevatif  atau hawkish yang merupakan imigran Yahudi dari Eropa Timur. Menurut Justin Raimondo dalam artikelnya        " No Sympathy for The Neocons " ( Antiwar.com 10/8-05 )  Awalnya mereka berhaluan kiri (lefties) , dan begitu masuk AS mereka bergabung dengan sayap kiri partai Demokrat, lantas karena alasan fragmatisme mereka berpindah ke sayap kanan Partai Republik  (rightists). Tahun 1997 secara resmi membentuk tangki pemikir ( think tank ) yang disebut  The Project for the New American Century (PNAC). Tujuan utamanya membangun sebuah imperium global di bawah payung Pax-Americana , atas dasar ideologi     " internasionalisme Amerika ". Untuk itu AS harus memperkuat ekonomi dan militernya, dengan sebuah kebijakan luar negri yang tegas,  di mana salah satu strategi militernya didasarkan pada pandangan The best defence is a good offense ( doktrin pre-emptive ) . Pertahanan terbaik adalah serangan yang baik ( doktrin serang duluan ). Di antara tokoh neo-konservatif ini : Dick Cheney ( Wapres ),  Lewis Libby (kepala stap Wapres), Elliot Abrams ( Penasihat khusus Presiden ), Paul Wolfowitz ( sekarang Presiden bank Dunia ), Donal Rumsfeld ( Menhan )

Pandangan kelompok neo-con ini sangat anti komunis dan sangat pro-Israel. Inilah titik temu pandangan politik mereka. Hijrahnya mereka ke AS dibayang-bayangi oleh  tragedi  holocaust ( pembantaian Yahudi oleh Nazi ). Mereka berprinsip holocaust kedua harus dicegah dengan apapun resikonya, termasuk melakukan pembantaian terhadap lawan-lawan politik atau musuh-musuh Israel dengan tingkat kekejaman seburuk peristiwa holocaust.  Dalam pandangan  Neo-konservatif,  Irak di bawah sadam Husein,  Suriah di bawah dinasti Assad, dan Iran di bawah rezim para Mullah merupakan ancaman berbahaya bagi masa depan Zionis Israel, sehingga tak heran jika ketiga negara tersebut menjadi agenda utama mereka untuk dihancurkan.   Peristiwa 11 September menjadi strategi dan jalan bagi mereka untuk mengubah gagasan yang mereka susun dalam buku putih, menjadi sebuah rumusan kebijakan yang kemudian dijalankan pemerintah Bush dengan jargon " Perang Melawan terorisme "  ( War against terrorism ), yang kini bergeser menjadi War against Islam  ( Perang melawan Islam ). Subhanallah !

Arsip Fikroh pada majalah Risalah judul : KONSERVATISME

Penulis : Shiddiq Amien


Artikel Terkait


Asep Iwan G., M.Pd.I | Fikroh

Tambah Komentar

Komentar

Komentar tidak ditemukan