Terorisme dan Separatisme

Selasa, 26 Januari 2016 20:56:57

Facebook Google+ Twitter


 Jurgensmeyer dalam bukunya  " Terror in the Mind of God, The Global Rise of Religious Violence " menjelaskan bahwa batas antara teroris dengan bukan teroris sangatlah tipis, tergantung siapa yang memberikan penilaian. Seseorang atau sekelompok orang oleh penguasa dianggap sebagai teroris, tapi oleh masyarakat dan pendukungnya dianggap sebagai pejuang dan pahlawan.  AS selalu menuduh bahwa Al-Qaeda, Hammas, Pejuang Irak, dsb sebagai teroris. Tapi kalau kita tanya  rakyat Palestina  siapakah teroris itu ? Pasti jawabannya : Israel.  Jika kita tanya rakyat Irak dan Afganistan, siapakah teroris itu ? jawabannya : pasti AS dan Sekutunya. 

Pasca peristiwa 11 September 2001, stigma teroris berbalik 180 derajat, War Against Terrorism bergeser menjadi War Against Islam.  Ini bisa dilihat: Pertama, dari pernyataan George W Bush di hadapan para wartawan waktu itu, yang menyebut perang melawan teroris dengan istilah "The Crusade war" ( perang suci ). Istilah itu kemudian diralat oleh Mentri Pertahanan AS Donald Rumsfeld dengan memakai istilah "Infinite Justice Operation"  ( Operasi Keadilan Abadi ) kemudian karena banyak protes dirubah lagi jadi        " Enduring Freedom Operation " ( Operasi Kebebasan Abadi ). Kedua, dari usaha Bush untuk  membangun aliansi Yahudi-Kristen menghadapi teroris, sebagai menghadapi gerakan Islam. Di depan Congress AS Bush berkata : " … The terrorist directive, commands them to kill Christians and Jews. To kill all Americans without any distinction among military and civilian, including women and children "  ( Ajaran kaum teroris menyuruh mereka untuk membunuh Kristen dan Yahudi. Membunuh seluruh bangsa Amerika, tanpa membedakan antara tentara dan sipil, termasuk wanita dan anak-anak ).  Ketiga, dari daftar  Organisasi teroris yang dikeluarkan pemerintah AS, dari 35 organisasi, 18 diantaranya  adalah Gerakan Islam.  Rencana besar Bush dengan gang-nya telah cukup berhasil membangun stigma, ini bisa dilihat dari pernyataan Prof. Richard Bulliet dari Universitas of Columbia  yang menyatakan : " We at some point are going to reach a threshold where people no longer need evidence to believe in a generic terrorist threat from religious muslim fanatics."  ( Orang AS suatu ketika akan percaya / meyakini tanpa perlu bukti apapun, bahwa ancaman teroris selalu datang dari kaum muslim fanatik ).

Padahal teror bisa dilakukan oleh kelompok agama lain, semisal : American militant Extrimist (AS), Aum Shinrikiyo (Jepang),  Khahana Chai ( Israel ), Tupac Amaru ( Peru ) di AS sendiri ada tokoh teroris seperti : Michael Bray yang melakukan pengeboman terhadap tempat-tempat aborsi, Timothy Mc Veigh  pembom gedung Federal di Oklahoma city. Teror juga bisa dilakukan satu negara terhadap negara lain, seperti yang dilakukan Israel terhadap bangsa Palestina, atau yang dilakukan AS dan Sekutunya terhadap Afganistan, Irak, dsb. Noam Chomsky dalam "9/11" (2001) bahkan menyatakan :" We should not forget that the US itself is a leading terrorist state " ( Kita tidak boleh lupa bahwa AS sendiri adalah biang negara teroris ). 

Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan ( KONTRAS)  dalam catatan akhir tahun 2001 menyimpulkan bahwa terror-teror bom sejak 1976 sampai Juli 2001 di Indonesia itu bersifat lokal.  Dari tahun 1976-1977 intensitasnya sangat rendah. Kejadiannya hanya satu sampai dua kasus. Peningkatan signifikan teror bom terjadi sejak Soeharto diturunkan dari kursi kepresidenan pada Mei 1998. Peledakan bom tahun 1998 enam kasus, tahun 1999 tujuh kasus, tahun 2000 tiga puluh dua kasus dan puncaknya per Juli 2001 delapan puluh satu kasus.   Motif teror semula lebih spesifik sebagai kriminalitas, kemudian bergeser  menjadi rekayasa untuk menciptakan instabilitas keamanan, politik dan ekonomi.  Sejak peristiwa Bom Bali I pada 11 Oktober 2002 petanya berubah total, baik dari sisi sasaran, pelaku, maupun motifnya.  Pasca Bom Bali I stigma teroris  menjadi spesifik gerakan Islam, pelakunya juga sudah berlevel multinasional, ada Imam Samudra cs, ( Indonesia ), DR. Azahari dan Mohammad Noordin M Top ( Malaysia )  dan Umar Al-Faruq ( Kuwait ). Dengan motif agama.  Sejak UU Antiterorisme No. 15 tahun 2005 diberlakukan, korbannya adalah aktivis muslim. Pihak non-muslim yang melakukan aksi terror belum pernah ada yang menjadi sasaran UU tersebut. 

Sparatisme adalah  faham atau gerakan yang bertujuan memisahkan  daerahnya dari pemerintahan pusat dan berdiri sendiri.  Dua situs gerakan sparatisme di Indonesia Bagian Timur kembali mengemuka.  Republik Maluku Selatan (RMS) lewat aksi dramatisnya melalui tarian Cakalele  yang dengan berani mengibarkan bendera RMS di hadapan Presiden Susilo Bambang Yudoyono yang sedang menghadiri perayaan Harganas, pada tanggal 29 Juni 2007, kemudian disusul dengan pengibaran bendera Bintang Kejora  yang dilakukan oleh para narapidana politik Organisasi Papua Merdeka (OPM) di penjara Abepura dalam perayaan hari ulang tahun OPM tanggal 1 juli.  Kedua peristiwa tersebut mencerminkan kapasitas koersif negara dalam mengendalikan stabilitas dan keutuhan teritorial negara sangat rendah. Bagaimana tidak, RMS bisa melakukan aksi secara sempurna di hadapan Presiden SBY di tengah asumsi bahwa pengamanan terhadap aktivitas presiden adalah dalam posisi top security levels. Demikian juga dengan OPM, mampu mengibarkan bendera Bintang Kejora di Lembaga Pemasyarakatan Abepura, yang diasumsikan sebagai tempat yang telah disterilisasi dari segala aktivitas yang berhubungan dengan masyarakat luar. Bagaimana bisa bendera Bintang Kejora lolos sensor dan berkibar di atas gedung lembaga pemasyarakatan itu ?

Bagi kelompok sparatis, keberhasilan dua aksi tersebut jelas memiliki makna yang sangat besar. Pertama, eksistensi kelompok separataisme di mata para anggota dan simpatisannya akan semakin meningkat. Pada saat RMS dan OPM semakin termarjinalkan, maka dengan peristiwa tersebut pamornya menjadi naik, dan  itu akan membuat para pendukung kedua organisasi tersebut mempunyai alasan kuat bahwa organisasi mereka masih memiliki taktik dan strategi yang sistemik dan efisien dalam mengartikulasikan aspirasinya.  Kedua, Kondisi ini akan meningkatkan kepercayaan diri RMS dan OPM untuk kembali melakukan aksi menebar konflik secara konfrontatif. 


Pada dasarnya, teroris dan sparatis dalam operasinya memiliki target dan tujuan yang sama, yakni mendelegitimasi negara.  Bedanya kelompok sparatis mencoba melawan negara dan berupaya melepaskan diri dari NKRI dengan mendirikan negara baru. Mereka  mampu membangun simpati dunia dan menjalin kekuatan internasional.  Sehingga mereka diperlakukan dengan sangat hati-hati oleh Negara. Penangkapan terhadap tokoh-tokoh Sparatis nampak dibatasi kepada mereka yang terlibat langsung dalam aksi-aksi yang dinilai membahayakan keamanan Negara, tidak sampai menyentuh penghancuran organisasi dan penangkapan para anggota pendukung dan simpatisannya. Aparat keamanan terkesan sangat selektif dalam memilih target kaum separatis. Dalam menyikapi peristiwa memalukan di Maluku itu, aparat keamanan malah saling tuding dan menyalahkan. 

Tidak demikian dengan kelompok teroris yang dalam operasinya tidak mesti memusuhi Negara, mereka berusaha melawan dominasi dan ketidakadilan kekuatan global Barat.  Perlakuan yang mereka terima sangat berbeda dengan kelompok separatis. Mereka diburu dimana-mana. Manakala terjadi ledakan bom, telunjuk langsung dialamatkan kepada Jamaah Islamiyyah (JI) atau Al-Qaeda. Dukungan internasional terhadap pemerintah RI dalam memerangi teroris sangat kuat, bantuan dana dan teknis terus mengalir. Tidak hanya para pemimpin dan elite-eliote JI yang ditangkap tapi para anggota dan simpatisannyapun jadi target operasi. Bahkan untuk memerangi teroris dibentuk Detasemen Khusus (Densus) 88.  Dalam kasus penangkapan Yusron Mahmudi yang disebut-sebut sebagai Abu Dujana, 9 Juni 2007 di Banyumas, Densus 88 menembak kaki Yusron di depan kedua anaknya yang berteriak nangis histeris.  Tujuannya nampak sekali untuk mengesankan betapa bahayanya para teroris itu, atau bisa juga dalam rangka promosi untuk menunjukkan betapa heroiknya aparat keamanan kita.  Sikap brutal seperti itu juga bisa bertujuan untuk membangkitkan kebencian masyarakat, atau membangun kesan dan opini di masyarakat bahwa di tubuh gerakan Islam itu tersimpan potensi berbahaya.  Dengan begitu segala tindakan represif terhadap kelompok yang distigmakan sebagai JI dianggap sah.  Kehebatan para anggota teroris seperti Abu Dujana yang dikampanyekan polisi itupun ternyata hanya bualan. Baru tiga hari saja dalam tahanan polisi, ia sudah mengoceh tentang segala aktivitas terornya, dan kronologi keterlibatannya dalam JI, sikap yang sama sekali tidak menunjukkan militansi seorang teroris  sebagaimana dipropagandakan polisi. Wallahu'alam.

Arsip fikroh pada majalah risalah Judul tulisan : TERORISME & SEPARATISME

Oleh : Shiddiq amien

Artikel Terkait


Asep Iwan G., M.Pd.I | Fikroh

Tambah Komentar

Komentar

Komentar tidak ditemukan