» Artikel / Religi


MAKNA SILATURAHMI

Ditulis : Jumat, 7 Sepember 2012 | 18:32 WIB | 0 Komentar | 1218 hits | Kategori : Fiqih

MAKNA SILATURAHMI

Oleh : Shiddiq Amien 

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari sahabat Abu Hurairah Nabi saw.  bersabda bahwa barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat hendaklah ia bersilaturahmi.  Kemudian dalam hadits lainnya masih riwayat Imam al-Bukhari dari sahabat Jubair bin Muth’im beliau juga mengultimatum bahwa Barangsiapa yang memutuskan  silaturahmi tidak akan masuk surga.

Makna silaturahmi tentu tidak sebatas bersalaman atau mushafahah, kunjungan keluarga,  dan pertemuan warga atau teman sekerja, dsb. Tapi punya makna yang lebih jauh lagi , yaitu bagaimana upaya kita untuk memelihara diri  dan keluarga kita  agar tetap istiqomah atau konsisten dalam keimanan, keislaman dan ketakwaan. Seperti diisyaratkan oleh Allah swt. dalam firman-NYA :   “ Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada  Tuhanmu yang telah menciptakan kamu  dari diri yang satu, dan dari padanya  Allah menciptakan istrinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan  laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah  yang dengan mempergunakan nama-Nya  kamu saling meminta satu sama lain, dan peliharalah hubungan silaturahim . Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. “ QS. An-Nisa : 1

 Musafahah atau bersalaman dalam ajaran Islam mengandung nilai ampunan Allah, sehingga tidak hanya  dilakukan sebatas pada suasana ‘iedul fithri saja, tapi bisa dilakukan kapan saja. Nabi saw. bersabda :  “ Jika dua orang muslim bertemu lalu bersalaman, maka Allah akan mengampuni dosa kedua orang itu sebelum keduanya berpisah. “  HR. Abu Daud dan at-Tirmidzi.

Jaminan yang diberikan Nabi saw. dalam hadits tersebut tentu saja masih dengan catatan, antara lain :  Pertama,  Jika dalam musafahah atau bersalaman tersebut tidak terjadi pelanggaran atas ketentuan Allah dan rasulnya. Nabi saw telah mengingatkan kita :  “ Kepala seseorang ditusuki dengan jarum dari besi, itu lebih baik dari pada  (dibakar neraka ) disebabkan bersentuhan kulit dengan wanita yang tidak halal baginya. HR. at-Thabrani.

Kedua, Tangan bersalaman itu merupakan cerminan atau ungkapan bersihnya hati kedua orang yang bersalaman itu. Apalah artinya tangan berjabatan jika dalam hati penuh dengan kebencian, kedengkian alias hasud, permusuhan, dan dendam. Kiranya bersalaman seperti itu masih jauh dari jaminan Nabi saw. di atas;  me Nabi aw. Dalam sebuah haditsnya pernah menyatakan bahwa pintu surga dibukakan oleh Allah pada setiap hari Senin dan Kamis, Allah juga membuka pintu ampunan bagi mereka yang meminta ampun pada kedua hari itu, kecuali mereka yang dengan saudaranya, tetangganya, atau dengan teman-temannya dalam hatinya ada permusuhan, kebencian, dendam, dan hasud, maka Allah menyuruh para malaikatnya untuk membiarkan permohonan ampunan mereka itu sampai mereka islah atau damai atau bersih hatinya dari penyakit-penyakit hati tadi.

Sikap saling maklum dan siap meminta maaf dan memaafkan orang lain adalah sifat orang mukmin, seperti diterangkan oleh Allah dalam QS. Ali Imran :  134. Di masyarakat kita  banyak terjadi  antar saudara, antar keluarga,  atau antar tetangga, bermusuhan sudah berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Saling serbu antar kampung, antar desa, antar suku, karena soal dendam lama yang terkadang sepele.  Kondisi seperti ini tentu jauh dari nilai silaturahmi. Bahkan bisa jadi penghambat dikabulnya do’a dan istighfar.

Demikian juga pertemuan keluarga, atau warga atau teman sekerja, akan mempunyai nilai silaturahmi jika tidak sekedar kumpul, ngobrol ngalor ngidul tak keruan, dan makan-minum semata, tapi pertemuan yang didalamnya terdapat upaya untuk menyuruh orang berbuat baik, berbuat islah diantara sesama, berbuat jujur atau bersedekah. Seperti diingatkan Allah dalam firman-Nya : “ Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan ( pertemuan ) mereka, kecuali bisikan –bisikan dari orang yang menyuruh  manusia memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia. “ QS. An-Nisa : 114

Jika kita menengok sejarah atau kisah Nabi Nuh a.s. Seorang Nabi yang diberi usia panjang 950 tahun, dan diangkat Nabi atau rasul pada usia 480 tahun (?), berarti beliau dakwah mengajak umatnya kepada ajaran tauhid lebih kurang 470 tahun. Tapi umatnya yang beriman hanya sedikit,  hanya seiisi perahu. Bahkan istri dan salah seorang anaknya – Kan’an – tidak mau beriman.

Ketika umatnya oleh Allah dibinasakan karena kekufurannya dengan banjir besar,  putranya yang bernama Kan’an ternyata tidak termasuk yang ikut dalam perahu Nabi Nuh as. Ketika oleh Nabi Nuh diajak untuk naik perahu,  ia menolaknya. Sehingga kemudian oleh Allah si Kan'an ditenggelamkan dan mati. Jasadnya terapung-apung di tengah lautan banjir.  Nabi Nuh as. Sebagai seorang bapak, bagaimanapun sangat menyayangi putranya itu, oleh sebab itu kemudian Nabi Nuh as. mempertanyakan hal itu kepada Allah dengan ungkapan :”  Bukankah  Anakku ( si Kan’an itu ) adalah keluarga hamba juga ? “  Allah menjawab : “  Wahai Nuh sesunguhnya dia bukanlah keluargamu, karena ia tidak beramal saleh.” QS. Hud 45-46

Dari kisah ini kita bisa mengambil pelajaran dan ‘ibrah bahwa inti pokok silaturahmi adalah bagaimana kita menjaga diri kita dan keluarga kita , bahkan kalau bisa warga dan teman sekerja kita tetap istiqomah menjadi manusia yang beriman dan beramal saleh. Sebab jika ada anggota keluarga kita sudah tidak beramal saleh, misalnya tidak mau shalat, shaum, menutup aurat, dsb. Maka meski kita dengan mereka tinggal serumah, makan semeja, tidur sekamar bahkan sekasur, pada hakikatnya silaturahmi kita dengan mereka sudah mulai jauh, bahkan jika dibiarkan bisa putus seperti halnya Nabi Nuh as dengan anaknya si Kan’an. Wallahu’alam.